Sunday, 18 February 2018

Nasib Tragis Lelaki Senior Rumah Rusak Nyawa Raib

Rabu, 31 Januari 2018 — 6:10 WIB
sabet

SUDAH banyak contoh di Madura, ganggu bini orang nyawa taruhannya. Tapi Sobir, 45, masih nekat juga. Ny. Sakirah, 40, digendak saat suami tak di rumah. Tentu saja Sodrun, 50, selaku suami tak terima. Sobir dikeroyok banyak orang. Bukan saja nyawanya yang raib, rumahnya pun dirusak sebagai pelampiasan.

Ungkapan lama mengatakan, rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Kata-kata itu sampai sekarang belum dicabut, karena masih relevan meski bukan tukang rumput. Lelaki cap apapun setiap melihat perempuan cantik, selalu ingin menatapnya berlama-lama, paling tidak meliriknya. Jika sekedar menatap saja, tak masalah. Yang bahaya, lalu membayangkan yang mboten-mboten, ingin mendekati dan kemudian…..menggauli!

Adalah Sobir, warga Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura. Di rumah sebetulnya dia sudah punya rumput sendiri, yang bisa disenggut (dimakan) kapan saja. Tapi ternyata, belakangan melihat Ny. Sakirah yang jadi “rumput”-nya Sodrun, ukuran celananya langsung berubah. Kata Sobir, ibarat buah mangga, dalam usia segitu sedang mengkel-mengkelnya, enak buat rujakan.

Padahal kaum bijak yang lain juga mengingatkan, bini tetangga itu tak ubahnya ikan hias, kita hanya bisa menikmati lenggang-lenggoknya dalam akuarium. Hanya dipandang saja, tak boleh ada pikiran untuk menggorengnya. Padahal, jika kepepert bisa juga digoreng. Dan ketika dimasak bumbu asam manis, woo…..rasanya lezat sekali itu.

Sobir bingung menyikapi dua pendapat itu. Bini tetangga itu bagaikan rumput apa ikan hias? Jika sekedar rumput, diolah macam apapun tak enak juga. Tapi kalau ikan hias, jika mahir mengolah dan menggorengnya pasti rasanya maknyuss. Masalahnya, Ny. Sakirah ini siap digoreng apa tidak?

Sebetulnya Sobir sudah lama menjadi pengamat bini tetangga, hanya tak ada TV swasta yang mau mengajaknya talk show. Padahal pengamat politik macam J. Kristadi, Hanta Yudha, Burhanudin Muhtadi maupun Gun Gun Haryanto, wajah mereka selalu bersliweran di TV, lebih-lebih menjelang Pilkada. “Heran, aku kan juga pengamat, tapi kok nggak laku dijual?” keluhnya dalam hati.

Tapi sebagai pengamat amatiran, Sobir tak pernah berkecil hati. Dia terus mengamati perkembangan Ny. Sakirah tersebut. Beberapa minggu kemudian lelaki senior (senang istri orang) ini berani menarik kesimpulan, jika serius dalam satu putaran juga kena dia. Nah yakin akan prediksi sendiri, mulailah dia mencoba mendekati bini Sodrun tersebut.

Setiap suaminya tak di rumah, diam-diam Sobir mendekati Ny. Kasirah. Ternyata benar. Hanya 3-4 kali kunjungan, Kasirah sudah memberi angin, maka dengan langkah pasti Sobir ingin “menggoreng” ikan hias yang gerak-geriknya sangat menggamit rasa merangsang pandang itu. Dan ternyata betul, digoreng bumbu asam manis di atas kasur, woo…..rasanya seger sumyah bikin takon tunggale (masih ada yang lain?).

Sejak itu asal ada peluang pastilah Sobir menggoreng. Lama-lama tercium oleh Sodrun suaminya. Tentu saja marah besar. Dengan mengajak beberapa orang teman, pengganggu istrinya itu habis dikeroyok hingga tewas. Bahkan rumah Sobir yang tak ada kaitanya ikut hancur di. Resikonya, Sodrun Dkk ditangkap dan masuk tahanan polisi.

Kelawatan sih, sudah punya ikan asin kok nginceng ikan hias. (JPNN/Gunarso TS)