Tuesday, 23 October 2018

Kurang Gizi di Tengah Ibukota

Jumat, 2 Februari 2018 — 7:17 WIB

KASUS gizi buruk yang dialami balita di ujung wilayah Indonesia, tepatnya di Papua, ternyata dialami pula oleh sejumlah anak-anak di Tangerang. Tak perlu jauh-jauh melacak warga penderita malnutrisi, karena di dekat Ibukota pun ada. Kini terlacak lagi, 32 bayi di wilayah Jakarta Utara mengalami kurang gizi.

Temuan adanya puluhan bayi di utara Jakarta mengalami kurang gizi, sangat mengejutkan. Karena mereka adalah warga Ibukota, yang domisilinya di tengah kota metropolitan dan pemerintah daerahnya memiliki APBD tertinggi dibanding wilayah lain, dan tingkat pendidikan penduduknya lebih maju.

Bisa jadi angka 32 bayi hanya sebagian kecil yang terungkap ke permukaan, sedangkan jumlah sesungguhnya belum terdata.

Persoalan kurang gizi, gizi buruk hingga kasus terburuk busung lapar, sebetulnya tanggung jawab negara. Kasus yang dialami 32 bayi di Jakarta Utara mungkin baru pada level malnutrisi energi protein (ME) tingkat pertama atau kurang gizi. Di level ini bayi maupun balita bobot tubuhnya dan tumbuh kembangnya tidak sesuai usia.

Temuan puluhan bayi kurang gizi, membuktikan lengahnya keluarga, perangkat pemerintah serta negara. Beragam penyebab kurang gizi antara lain anak telantar akibat kesibukan orangtua bekerja, ketidaktahuan keluarga tentang pentingnya nutrisi, faktor kelainan, serta faktor ekonomi alias kemiskinan.

Catatan Global Nutrition, soal pemenuhan gizi di Indonesia menempati peringkat ke-108 dengan prevalensi stunting atau tingkat penyakit gizi buruk pada anak, mencapai 36,4%. Dibanding negara Asen lainnya, peringkat ‘kecukupan gizi’ bagi penduduk Indonesia sangat jauh.

Penyebab utama bayi kurang gizi di kota metropolitan, harus ditelusuri dari hulu sampai hilir dan segera ditangani oleh dinas terkait. Edukasi pada masyarakat, pemberian nutrisi pada balita anak kurang mampu, serta yang utama menggenjot pertumbuhan ekonomi masyarakat segera lakukan. Bagaimana mungkin anak-anak bisa bergizi bila orangtua membeli susu dan makan berprotein saja tidak mampu.

Pemprov DKI dituntut bergerak cepat mendata anak-anak kurang gizi di seluruh wilayah Jakarta dan segera ditangani. Jangan sampai MEP derajat pertama, alias kurang gizi, meningkat menjadi level gizi buruk atau busung lapar seperti di Papua. Malu, di tengah gemerlapnya Ibukota masih ada anak yang kurang gizi.**