Saturday, 18 August 2018

Marah Diledek Burung Loyo Kakek-Kakek Tega Bunuh WIL

Jumat, 2 Februari 2018 — 6:43 WIB
cekik

USIA sudah kepala tujuh, Mbah Darmo Kirin, 72, masih pelihara WIL juga. Giliran diledek janda Jumiati, 65, bahwa tit….eh “burung”-nya sudah loyo, naik pitam. Nenek si mulut ember ini langsung dikepruk batu, ya matilah! Kini Mbah Darmo yang jalannya saja sudah sempoyongan, jadi urusan polisi.

Ciri khas manula adalah, kakek-kakek akan selalu mengangguk-anggukkan kepala, sedangkan nenek-nenek akan menggeleng-gelengkan kepala. Apakah makna dari semua itu? Ssst….., kata pakar seksologi adalah: si kakek dalam usia 70 tahun masih doyan dan mengajak yuuuk….! Sedangkan si nenek, dalam usia yang sama meski diajak sudah geleng-geleng pertanda ogah, ogah!

Rupanya Mbah Darmo Kirin yang tinggal di Dampit Kabupaten Malang ini termasuk kategori itu. Jika berjalan, kepalanya suka mengangguk-angguk di luar kendali otak. Dalam usia sudah kepala tujuh, hasratnya masih menggebu-gebu. Sayangnya di rumah tak punya kesempatan bereskpresi, karena istrinya sudah lama meninggal.

Tapi Mbah Darmo Kirin memang kakek kreatif di jamannya. Kebetulan dia punya tetangga agak jauh rumahnya, yang mau dijadikan medan pelampiasan syahwati. Namanya Mbah Jumiati. Dalam usia 8 windu lebih sedikit, penampilannya masih lumayan kenceng, karena suka senam pagi setiap Sabtu di balai RW. Jika sudah pakai baju senam, usianya langsung seperti dikorting 15 tahun lamanya.

Mbah Darmo Kirin juga punya kegiatan yang sama, setiap Sabtu pagi ikut pula senam bersama. Nah, dari sinilah keduanya menjadi akrab. Janda ketemu duda, apa salahnya berkoalisi untuk persiapan menuju tahun 2019? Toh tak ada persyaratan ambang batas kursi kakek nenek ini.

Di luar kegiatan senam Sabtu pagi, keduanya diam-diam suka “senam” sendiri di kamar khusus, tentu saja tanpa iringan lagu senam Manuk Dadali atawa Gemu Famire. Namanya juga kakek nenek, kegiatan “senam” itu tak pernah berlangsung lama. Karena kata dokter, sekedar untuk golek kringet. Tapi Mbah Jumiati sangat bisa memaklumi.

Tapi makin ke sini, tenaga Mbah Darmo Kirin sudah tak lagi rosa-rosa seperti Mbah Maridjan. Namun demikian hasratnya tetap menyala, sehingga setiap ada kesempatan masih juga ingin mengajak Mbah Jumiati untuk “senam” di luar Sabtu pagi. Tapi ya itu tadi, ibarat listrik PLN, tadinya voltase masih 200 sekarang tinggal 110 seperti tegangan listrik jaman Orde Lama.

Sampailah kejadian beberapa hari lalu. Sudah lama bolehnya “warming up”, tapi Mbah Darmo Kirin tetap saja loyo. Sepertinya dia punya burung justru makin mendelep, tak mampu berbicara dalam percaturan ranjang. Saking kesalnya, Mbah Jumiati sampai meledek, “Apa iki, manuk kok ming sak odol hotel…..”.

Mbah Darmo Kirin tentu saja tersinggung, burung kesayangan yang tidak doyan kacang ijo dan juwawut kok dibilang “sak odol hotel”. Langsung saja pipi Mbah Jumiati ditapuk (kepret)-nya. Eh, dia membalas dengan menendangnya sampai terjengkang. Makin marahlah Mbah Darmo Kirin. Melihat ada batu lumayan besar di kolong ranjang langsung saja diambil dan dikeprukkan ke kepala Mbah Jumiati berkali-kali. Tentu saja wasalam.

Habis mengeksekusi sang WIL, Mbah Darmo Kirin kalem saja pulang. Dua jam kemudian ada polisi datang menjemputnya. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, si kakek mengakui bahwa telah membunuh Jumiati dengan pukulan batu. “Jeneh, tuwa-tuwa cangkeme seneng clometan (sudah tua masih suka ngomong ngaco),” kata Mbah Darmo Kirin seakan cari pembenaran.

Simbah sudah tua kok juga punya WIL, hayo! (BJ/Gunarso TS)