Sunday, 21 October 2018

Dagelan

Senin, 5 Februari 2018 — 7:27 WIB

KITA semua terus saja disuguhi tontonan lawak. Kita pernah menyaksikan kelompok Srimulat yang menginspirasi humoris-humoris muda. Mereka disebut sebagai pelawak tidak jadi masalah, karena mereka memang melawak dari hati, dihayati, dan ditekuni, meresap dalam pribadi mereka.

Lain dengan mereka, pelawak-pelawak muda sekarang tidak mau disebut pelawak. Mereka minta disebut komedian, supaya keren, supaya modern, meski tidak lucu. Lagi pula, _cengengas-cengenges_ di kaca TV sekadar cari peluang mengumpulkan harta, lalu boleh sesukanya lantas _goodbye_ dunia lawak. Siapa peduli?

Nah, lawakan sesungguhnya bisa muncul dari segala aspek kehidupan manusia, baik sebagai pribadi maupun dalam masyarakat. Yang paling lucu jelaslah lawakan politik. Ini lagi tren. Jumlahnya bertumpuk-tumpuk di media massa. Tentu saja karena terlalu banyak maka malah jadi sampah, bikin sesak ruang dan pikiran. Kita lantas lupa tugas kita untuk menghidupi keluarga.

Mereka lucu-lucu. Ada yang memancing-mancing di air keruh, begitu ada yang menyambar lalu _jejingkrakan_ kegelian macam Putri Salju dilibet ular sanca di kakinya. Tengok, misalnya, bagaimana ada kelompok yang ingin mempertahankan kekuasaan sampai harus melakukan ini dan itu, membuat pengaruh dengan mengerahkan para kaki tangannya di mana-mana.

Perubahan zaman yang begitu cepat, yang membuat penguasa siapa saja harus bersiap-siap mundur pada waktu yang tepat bagi rakyat, ternyata belum tentu tepat bagi dirinya, apalagi kroni dan kelompoknya.

Benar kata banyak orang, berkuasa itu candu. Tetapi, ingat presiden pertama AS, George Washington, yang hendak dipilih lagi setelah menyelesaikan masa tugas pertamanya, dia menolak.

“Kalau saya mau dipilih keduakalinya, maka saya ingin ketigakalinya. Kalau saya mau pilih ketigakalinya, maka mau keempatkalinya,” katanya. Jadi, Pak George berhenti jadi presiden dan namanya tetap harum di sepanjang masa. Dengan pendapatnya itu, ia menegaskan bahwa dirinya betul-betul tidak sedang melawak.

Iya, kekuasaan itu candu terbesar, hingga membuat orang kepingin berkuasa terus. Kemudian diumumkanlah hal-hal lucu. Muncul pengumuman lucu yang pertama, disusul dengan dagelan berikutnya. Mereka lupa, ini soal negara. Bukan panggung dagelan. (*)