Monday, 16 September 2019

BPJS Ketenagakerjaan Jadi Tuan Rumah Seminar Internasional Jaminan Perlindungan Sosial

Selasa, 6 Februari 2018 — 11:46 WIB
Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI Membuka Seminar Internasional Jaminan Sosial oleh ISSA didampingi Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto, Joachim Breuer, President of ISSA dan pejabat lainnya.  (Tri)

Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI Membuka Seminar Internasional Jaminan Sosial oleh ISSA didampingi Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto, Joachim Breuer, President of ISSA dan pejabat lainnya. (Tri)

NUSA DUA – Menyikapi revolusi Industri 4.0 guna mengantisipasi 10 tantangan global yang direkomendasikan oleh ISSA (International Social Security Association), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan menjadi tuan rumah dalam Seminar internasional yang digelar oleh ISSA (International Social Security Association) di  Nusa Dua, Bali, Selasa, (6/2/2018).

Seminar ini dibuka oleh Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI, sekaligus menjadi narasumber utama bersama dengan Joachim Breuer, President of ISSA.

Salah satu bahasan krusial dalam kegiatan ini adalah soal kemajuan teknologi yang banyak merubah tatanan hidup masyarakat.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto menjelaskan, ISSA merupakan organisasi internasional yang menaungi 330 organisasi jaminan sosial dari 158 negara di seluruh dunia. Kegiatan ini disebut langkah strategis yang perlu ditempuh untuk terus beradaptasi terhadap perekonomian global.

“Ini merupakan salah satu seminar terbesar yang dicanangkan oleh ISSA untuk mengumpulkan praktisi-praktisi jaminan sosial untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan agar bisa menghasilkan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan dan praktisi jaminan sosial,” jelasnya.

Agus Susanto mengatakan, saat ini perekonomian bergerak secara digital, dimana semua orang mendapatkan kesempatan yang sama dan bisa bekerja tanpa mengenal batasan ruang dan waktu.

“Semua bisa dilakukan dalam genggaman, baik itu pekerja maupun pasar sasarannya. Semua menjadi semakin tidak terlihat, dan dari sisi jaminan sosial tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri”, ungkap Agus.

Agus menambahkan, disruptive economy ini selain membawa impact serius pada tatanan perekonomian, juga membawa dampak dalam hal ketenagakerjaan, hubungan industrial, keberlangsungan sistem jaminan sosial, bahkan juga berdampak pada cara masyarakat berkomunikasi dan berinteraksi.

Seminar internasional ini dihadiri 125 pemerhati jaminan sosial dari 30 negara bersama dengan 350 orang praktisi dan pemerhati jaminan sosial di Indonesia. Selain itu juga dilakukan penandatanganan kerjasama strategis antara BPJS Ketenagakerjaan dengan DGUV (German Social Accident Insurance) atau Lembaga Penyelenggara Jaminan Kecelakaan Kerja Jerman terkait K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dan jaminan sosial.

“Semoga dengan terlaksananya seminar internasional ini dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang membantu para pemangku kepentingan jaminan sosial di seluruh dunia dalam menentukan langkah ataupun kebijakan ke depan”, pungkas Agus.

(tri)