Friday, 17 August 2018

Gali dan Tutup Utang

Jumat, 9 Februari 2018 — 4:54 WIB
anakjel

WAJAH ibu Anu nampak gelisah. Sejak datang di rumah salah satu majikannya untuk mencuci baju, dia tidak kosentrasi. Sesekali memainkan HP, dan dia bicara; ”Jangan kuwatir nanti saya bayar!”

Wanita tersebut memang bekerja sebagai buruh cuci harian, di beberapa tempat di lingkungan dia tinggal. Apa masalahnya sampai dia begitu gelisah? O, tenyata punya banyak tanggungan utang pada beberapa orang, termasuk bank keliling.

Dari bank keliling inilah yang membuat dia begitu panik, karena harus membayar setiap hari, sesuai perjanjian. Pernah dengar cicilan utang atau kredit dengan bayar harian? Nggak besar memang, tapi ini bisa bikin stres kalau lagi nggak ada uang. Oleh sebab itu dia, si wanita buruh cuci dengan tidak malu-malu lagi, dari hari kehari meminjam dari majikan-majikannya, termasuk ke tetangganya. Bayangkan setiap hari.

Kalau mau dihitung-hitung, pendapatan si ibu tersebut sebenarnya lumayan besar, karena dia bekerja di sebagai buruh cuci di beberapa tempat. Jika dihitung upahnya bisa melampau UMR. Sementara sang suami juga sebagai buruh proyek, dan tak pernah menganggur.

Tapi, mengapa si ibu punya banyak utang? Dua orang anaknya juga sekolah gratis. O, ternyata memang ada yang harus dia bayar. Anaknya yang ABG memegang HP yang harganya lumayan keren,dan juga butuh pulsa harian. Belum kebutuhan yang lain, jalan-jalan,menonton besama kawan-kawannya, juga membeli baju di distro? Begitu kan anak muda?
Lalau sang ibu? O, ternyata dia juga kumpul dengan ibu-ibu lain. Ingat lho, ngumpul, ngerumpi, jalan-jalan ke mal juga butuh uang?

Ya, seandainya saja, gaya hidup yang nggak jelas itu dihilangkan, seharusnya si ibu ini cukup makan dan minum, tanpa beban utang. Nggak perlu kucing-kucingan dengan penagih utang. Sekarang ini, apa boleh buat dia harus gali lobang untuk tutup utang? –massoes