Thursday, 15 November 2018

Suami Penganut Kebatinan Istri Direbut Pak Direktur

Jumat, 9 Februari 2018 — 5:07 WIB
pantes

PUNYA istri cantik kok malah jadi penganut kebatinan, ya repot. Lihat nasib Wahyudi, 43, dari Surabaya ini. Merelakan istrinya, Isdiati, 38, bekerja di kantoran, eh malah direbut Pak Direktur. Ini kan sama saja, ijo-ijo godonge waru jangan brongkos dibumbu cikal, duwe bojo aja ayu-ayu digondol boss kari bantal!

Mobil bagus mahal ongkos perawatannya. Begitu pula istri cantik, juga harus punya anggaran ekstra. Tak hanya rajin merawat tubuh agar tetap cantik, tapi juga harus punya duit banyak, suami punya pekerjaan mapan. Jika suami malah jadi penganut aliran kebatinan, tinggal menunggu waktu saja. Pada saatnya nanti akan digondol orang!

Peruntungan nasib Wahyudi warga Surabaya rupanya seperti itu. Dia dulu bangga betul bisa mempersunting Isdiati kembang kampung, yang bodinya seksi, sekel nan cemekel. Meski tanpa menggunakan isyu SARA, perilaku Wahyudi juga tidak santun-santun amat, hanya satu putaran Isdiati berhasil ditaklukkan dan kemudian dinikahi.

Tapi sebagai pegawai perusahaan swasta, rejekinya mengalami pasang surut. Ketika perusahaan tempatnya bekerja kalah bersaing, akhirnya Wahyudi terkena PHK. Kerja di tempat lain yang bergaji kecil, tak bisa untuk menghidupi keluarga secara layak. Akhirnya Wahyudi jadi penganut aliran kebatinan. Setiap malam istrinya yang cantik itu hanya diberi nafkah batin melulu.

Makan sehari-hari jadi mirip lagu “Bandar Jakarta”-nya Maladi. Awan mbayung sore kangkung, tanpa bosan. Memang karena tak ada pilihan. Akhirnya Isdiati minta izin suami untuk ikut bekerja. Ijazah sarjananya, meski hanya D-3, masih bisa dipakai untuk modal cari makan. “Saya tak mau jadi istri yang hanya “mamah karo mlumah”, kata Isdiati mempertegas keinginannya.

Meski berat, akhirnya Wahyudi mengizinkan juga. Dan ternyata karier Isdiati di kantoran cukup bagus, sampai kemudian ditunjuk jadi pemimpin perusahaan. Sejak itu dia mainnnya di kalangan atas perusahaan tersebut. Ketika kantor punya usaha di Malang, Isdiati sering diajak Pak Direktur ke Malang sampai nginap berhari-hari.

Isdiati selalu beralasan, tidurnya di rumah tantenya. Tapi itu kadang-kadang, lebih sering bersama bosnya di kamar hotel. Bukan sendiri-sendiri, tapi dalam satu kamar dan satu ranjang. Tahu sendiri pada akhirnya. Isdiati yang cantik itu lama-lama remek jadi ajang pelampiasan nafsu sang direktur.

Sejak itu perubahan dalam keluarga mulai terjadi. Kini Wahyudi sebagai penganut kebatinan menjadi tak terjamin lagi, sebab Isdiati mulai jarang melayani. Jika terpaksa, layanan itu tak lagi pakai penghayatan. Benar-benar seperti iklan di TV, durasinya tak boleh lama-lama, meski di waktu prim time.

Wahyudi mulai curiga, sehingga beberapa hari lalu mencoba membuntuti diam-diam ke Malang. Ternyata Isdiati tak tidur di rumah buliknya, justru tidur sekamar di sebuah hotel. Soalnya Wahyudi pernah mengecek ke hotel dimaksud. Nama istri dan Pak Direktur tercatat dalam satu kamar yang sama.

Melalui bantuan polisi pasangan mesum itu berhasil digerebek. Ternyata kini Isdiati lebih berat ke Pak Direktur ketimbang pada suami dan anak-anaknya. Ya sudah, terpaksa Wahyudi menceraikannya meski sama saja dengan parikan: ijo-ijo godonge waru jangan brongkos dibumbu cikal, duwe bojo aja ayu-ayu digondol boss kari bantal!

Kini bantalnya tinggal buat nampung iler doang! (JPNN/Gunarso TS)