Saturday, 17 February 2018

Jika Ayah Tiri jadi Predator ABG Selama 3 Tahun Disosor

Sabtu, 10 Februari 2018 — 7:20 WIB
awas

SARPIN, 40, layak disebut predator seksual. Sebab dia berburu kepuasan syahwati secara tidak wajar. Sudah ada istri, Hanifah, 45, eh masih menelateni Meida, 16, anak tirinya sejak duduk di bangku SMP. Gara-gara kelakuan ayah tirinya, pelajar SMA itu jadi stress, dan terbongkarlah kelakuan Sarpin selama ini.

Menjadi janda terlalu muda, menjadikan seorang wanita masih begitu mendambakan lelaki pengganti. Bisa karena pertimbangan ekonomi, demi kelangsungan kebutuhan perut. Tapi juga pertimbangan seksologi, karena masih membutuhkan jaminan yang di bawah perut. Tapi awas, jika kemudian hanya mementingkan diri sendiri, bukan anak-anak dari suami terdahulu, bisa berantakan jadinya.

Ny. Hanifah warga Lamandau, Kalteng, termasuk wanita yang tidak beruntung. Dalam usia 35 tahun waktu itu, sudah ditinggal mati suami. Itu artinya, kepala keluarga tempat bergantung, sudah tak ada lagi. Mau tidak mau harus ambil alih tanggungjawab, cari nafkah sendiri untuk menghidupi 3 anak tinggalan suami. Bila dulu cukup mamah karo mlumah, kini harus terengah-engah mencari nafkah.

Nafkah lahir masih bisa dicari dengan mudah di Lamandau. Tapi nafkah batin, itu yang tidak mudah. Saat ada suami selalu ada pasokan paling tidak dua kali seminggu sesendok makan, sekarang…… sudah bertahun-tahun hidup dalam kedinginan. Kalau soal makanan tinggal pesan, lha kalau soal begituan?

Sebetulnya banyak yang tertarik pada Hanifah, karena bodi dan wajah masih menjanjikan. Tapi hampir semuanya mundur teratur, gara-gara “ngisor andha akeh gemake” jare randa kok akeh anake (baca: banyak anak). “Saya cari istri, bukan yaysan penampungan anak yatim,” kata para peminat Hanifah.

Setelah 5 tahun menjanda, barulah dia ketemu lelaki muda bernama Sarpin. Dia termasuk bujang lapok, karena dalam usia 35 tahun kala itu, belum pernah kambon wedokan (baca: kenal perempuan). Sebetulnya Hanifah malas punya suami brondong. Tapi karena Sarpin ini sangat santun, ahli manata kata, seiman pula; ya sudah diterima saja sebagai suami. Mereka pun menikah resmi di KUA.

Hari-hari selanjutnya kembali indah seperti dulu. Malam-malam yang biasanya sepi, kini kembali banyak “kegiatan”. Apa lagi Sarpin ini lebih muda 5 tahun darinya, sehingga tenaganya sangat rosa-rosa melebihi Mbah Marijan dari lereng Merapi. Ibarat main bulutangkis, Hanifah selalu kena smash-smash tajam menukik. Jarang sekali “bola”-nya nyangkut di net.

Tambah berbahagia lagi Hanifah, ternyata Sarpin ini sangat sayang pada anak-anak bawaan suami. Tiap pagi anak-anak tiri itu selalu diberi sangu untuk sekolah. Bahkan siragil yang belum sekolah pun dapat pula KLP (Kartu Lamandau Pintar). Inilah sikap Sarpin, sebagai bukti keberpihakan pada anak tiri.

Tapi ternyata, itu semua ada udang di balik batunya. Beberapa tahun berikutnya, Sarpin mulai mengincar Meida yang kala itu sudah duduk di bangku SMP kelas II. Intinya, dia minta dilayani seperti ibu melayani dirinya. Bukan urusan makan, tapi tempat tidur. “Kalau menolak, tak bunuh kamu!” ancam Sarpin persis niru pelawak Kadir.’

Gara-gara ancaman tersebut, Meida pun terpaksa melayani. Ternyata itu terus berlanjut. Sampai ABG itu sudah duduk di kelas II SMA, masih ditelateni. Tertekan jadi budak seks ayah tirinya, tindakan Meida jadi seperti orang stress. Kemudian sang ibu bertanya, gerangan apa yang telah terjadi? Meida pun mengaku bla bla bla…….

Tentu saja Ny. Hanifah kaget banget. Skandal itu segera dilaporkan ke polisi dan Sarpin pun ditangkap dan langsung dinyatakan jadi tersangka. Karena ancaman pembunuhannya lebih dari 5 tahun, si brondong ini langsung ditahan di Polres Lamandau.

Kok nggak ajukan praperadilan kayak tersangka KPK? (JPNN/Gunarso TS)