Friday, 17 August 2018

Kiriman yang Tak Diharapkan

Sabtu, 10 Februari 2018 — 7:06 WIB
sampai

BANYAK orang yang menunggu-nunggu kiriman. Kiriman berupa uang, barang dan makanan, serta kiriman kabar yang baik, tentu saja. Misalnya orangtua di kampung halaman, sangat mendambakan kiriman dari anaknya yang sedang bekerja di luar. Syukur-syukur bukan saja uang tapi kendaraan misalnya. Wauw, betapa senangnya orangtua.

Tapi, ada kiriman yang nggak diharapkan, yakni kiriman banjir, seperti yang terjadi pekan-pekan ini. Warga Jakarta terutama yang tinggal di pinggiran kali dan tempat-tempat rendah, yang biasa digenangi air kiriman dari Bogor sana.

Ketika Bogor diguyur hujan lebat, Bendung Katulampa debitnya meninggi, maka siap-siaplah, mau nggak mau , suka nggak suka kiriman pasti akan datang, tepat waktu.

Itulah kiriman yang sama sekali tak diinginkan. Apalagi air yang terkirim sangat banyak, membludak dan menggenangi permukiman, sampai tiga meter lebih.

Ya, air akan tetap mengalir ke daerah yang rendah, dari hulu ke hilir. Dan bagi warga Jakarta, Kali Ciliwung itulah sebagai sarana kiriman air dari Bogor. Nah, ternyata yang dikirim bukan saja air tapi sampah yang jumlahnya ribuan ton. Kasihan Ciliwung.

Maunya Ciliwung menolak ketika ada warga yang nggak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan ke kali. Tapi, bagaimana ya, kali kan nggak punya kuasa?

Manusia yang seharusnya berpikir, o iya, kali atau sungai kan untuk menampung dan jalan air, bukan bak sampah ya? Akibatnya saluran mampet dan membludak. Banjir deh!

Okelah kalau begitu, kalau mau kirim yang enak-enaklah! -massoes