Saturday, 26 May 2018

Memburu Sembako Murah

Sabtu, 10 Februari 2018 — 6:55 WIB

DALAM tiga hari terakhir ini kita menyaksikan ‘perburuan’ sembako murah, setidaknya pada dua lokasi di Jakarta Barat.

Ratusan ibu rumah tangga datang lebih awal dan membentuk antrian panjang untuk mendapatlan paket sembako murah yang digelar Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan ( KPKP) DKI Jakarta, di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak ( RPTRA) Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat, Jumat (9/2/2018).

Pemandangan sama juga terlihat dua hari lalu, Rabu (7/2/2018) di salah satu RPTRA di Kelurahan Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat.

Penjualan sembako murah ini diadakan setiap bulan sekali di setiap kecamatan. Pada setiap lokasi disediakan lebih dari 1.000 paket sembako dengan harga per paket mulai Rp96 ribu hingga Rp126 ribu berisi antara lain susu, telor ayam, daging ayam dan beras.

Kali ini penjualan sembako murah diberikan kepada pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP), Pekerja Harian Lepas (PHL) dan Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Golongan masyarakat ini menjadi prioritas pembeli karena merekalah yang sangat membutuhkan , apalagi di saat harga sembako sedang melonjak.

Tentu saja tidak hanya golongan masyarakat ini yang perlu bantuan. Masih banyak warga masyarakat lainnya yang membutuhkan sembako murah.

Jika melihat data statistik, terdapat sekitar 400 ribu warga Jakarta yang tergolong kurang mampu. Kalau kita berasumsi pemegang KJP Plus, PHL dan PPSU termasuk di dalam kelompok kurang mampu, tetap saja masih banyak kelompok warga lain yang butuh pangan murah.

Ini terlihat dari setiap kali ada penjualan sembako murah selalu diburu pembeli. Mereka rela antri berjam – jam hanya untuk mendapatkan 1 paket sembako yang biasanya berisi susu, telur, daging, beras dan minyak goreng.

Melihat pengalaman, ada dua pola yang hendak dicapai mengapa diadakan penjualan sembako murah.

Pertama, bersifat situasional. Sembako murah digelar dadakan akibat adanya kenaikan harga pada komoditas tertentu yang diluar batas kewajaran. Ini sering disebut operasi pasar sebagai solusi instan untuk menstabilkan harga.

Kedua, bersifat rutin seperti penjualan sembako murah yang digelar oleh Dinas KPKP DKI Jakarta di setiap kecamatan. Operasi rutin setiap bulan ini tepat sasaran karena ditujukan kepada mereka yang benar – benar membutuhkan.

Kedepan perlu sinergi operasi pasar paket sembako murah yang tidak saja rutin, juga konsisten ditujukan kepada mereka yang bukan pemegang KJP, PHL dan PPSU.

Ini dimaksudkan bukan saja membantu warga kurang mampu, juga dapat disinergikan untuk mencegah sedini mungkin gejala kenaikan harga komoditas tertentu. (*)