Saturday, 17 February 2018

Siang Kerja, Malam Ngojek Gara-gara Istrinya Matre

Minggu, 11 Februari 2018 — 6:45 WIB
dharul

SUNGGUH kasiman Sarwono, 40, jadi suami. Gara-gara istri ingin ngembari penampilan tetangga, Sarwono dipaksa siang kerja pabrik, malam ngojek online. Tak sanggup diperkuda istrinya, Mirah, 35, Sarwono milih bercerai saja. “Kodok kalung kupat, awak boyok sing gak kuwat, Mas.” Kata Sarwono kesal.

Hidup di kota besar harus mampu mengerem penyakit “gila shoping”. Ini perhatian bagi kalangan ibu-ibu. Asal sudah masuk mall betah banget, apa saja dibeli, meski tak membutuhkan. Jika duit banyak, memang tak masalah. Tapi jika penghasilan suami pas-pasan, alamat kiamat. Banyak rumahtangga kandas gara-gara punya istri matre, selalu ingin ngembari tetangga.

Sarwono yang tinggal di Lakarsantri Surabaya ini awalnya bangga dan bahagia beristrikan Mirah. Kecantikannya memang seperti Dewi Maerah istri Prabu Basudewa, dalam kisah perwayangan. Maka doanya siang malam, semoga tak ada lelaki model Prabu Gorawangsa, artinya: di saat dia pergi lalu ada orang menyamar jadi Sarwono dan mengajak kelon Maerah. Kan kaco.

Ancaman dari luar seperti itu memang tak pernah ada. Yang ada justru ancaman dari dalam, dari istri sendiri. Jika tak bisa mengantisipasi bisa mengacam ketahanan ekonomi Sarwono, selaku kepala rumahtangga. Bayangkan, sehari-hari kerja di pabrik, malam jadi ojek online, kok istrinya hobinya ke mall. Lalu apa yang mau dibeli di sana? Sabun dan sikat gigi? Itu sih, di dekat rumah juga banyak.

Ny. Mirah memang aktif dalam kegiatan ibu-ibu di lingkungannya. Mau jadi wanita sosialita tingkat kampung. Di sinilah dia suka ngiri. Tetangganya ada yang punya tas bagus, sepatu bagus, pengin beli pula. Jika sekadar tas Tanggul Angin harga Rp 200.000,- masih kebeli. Tapi yang dimaui Mirah yang berharga juta-jutaan. “Kenapa nggak tas Herpes seharga Rp 500 juta sekalian? Tapi saya harus jadi Gubernur Ratu Atut dulu…..” Kata Sarwono kesal.

Mirah ini memang keterlaluan, jika minta sesuatu sakdek saknyet (harus ada). Dikiranya bernama Sarwono itu berarti sarwa ana (serba ada) apa? Ini kan urusan orangtuanya dulu. Kenapa diberi nama Sarwono, padahal setelah dewasa tidak jadi orang kaya. Sebagai anak bungsu, paling cocok Sarwono memang diberi nama Wisnu saja, dalam arti: wis ora nganu.

Masa yang lalu memang percuma saja disesali, kita harus menatap masa depan, begitu kata Sarwono. Oleh karena itu, ketika istrinya serba irian, dia hanya bisa menasihati bahwa rejeki setiap orang tidak sama. Ada yang diberi Allah Swt berkarung-karung seperti Setya Novanto DPR, ada yang sekedar tas kresek. Bahkan ada pula yang catuan rejekinya hanya segelas plastik anggur kolesom cap Orangtua.

Tapi Mirah jika dinasihati bawaannya jadi marah, kunci pintu kamar. Kalau boleh sekamar pun istri tidurnya tengkurep. Padahal telentang pun, Sarwono juga tak mau ngapa-ngapain, karena kecapekan. Maklum, dia siang hari bekerja di pabrik. Tapi malam hari harus ngojek online demi mencukupi keluarga.

Sebetulnya Sarwono memforsir tenaga juga karena dipaksa istrinya. Biar cukup harus: kerja, kerja, dan kerja, seperti program Presiden Jokowi. Tapi Sarwono kan manusia biasa, yang tenaganya terbatas tidak seperti kuda. Kuda saja bila kerjanya diforsir juga bisa putus napasnya.

Yang bikin Sarwono tambah marah, tanpa seizinnya Mirah pinjam uang di bank BPR, hanya untuk beli sepeda motor. Katanya biar ke mana-mana tak tergantung suami. Enak dia tinggal pakai, tapi Sarwono yang tobat-tobat untuk mencicilnya. Maka meski berat, terpaksa Sarwono mengajak Mirah ke Pengadilan Agama saja, untuk mengurus perceraian.

Biar tidak irian sama tetangga, kasih saja bini kacamata kuda, Cak. (JPNN/Gunarso TS)