Monday, 20 August 2018

‘Penjara Mewah’ Ritz Carlton Arab Saudi Dibuka Kembali Untuk Umum

Senin, 12 Februari 2018 — 15:00 WIB
Hotel Ritz Carlton Arab Saudi.(dok)

Hotel Ritz Carlton Arab Saudi.(dok)

ARAB SAUDI –  Hotel Ritz Carlton Arab Saudi  akhirnya dibuka kembali untuk umum, setelah sempat difungsikan sebagai penjara bagi lebih dari 200 pangeran dan pejabat tinggi yang melakukan korupsi sejak November 2017

Staf resepsionis di hotel bintang lima di Riyadh itu mengatakan kepada BBC bahwa hotel tersebut sudah mulai menerima para tamu biasa.

Lebih dari 200 pangeran, menteri, dan pengusaha ditahan di hotel ini serta sejumlah hotel lain, sebagai bagian dari gebrakan anti-korupsi yang dilancarkan Putra Mahkota, pangeran Muhammad bin Salman.

Para tersangka itu satu persatu dibebaskan setelah mencapai kesepakatan pengembalian uang dan pembayaran ganti rugi kepada negara.

Menurut laporan kantor jaksa agung Saudi, akhir Januari lalu, melalui kesepakatan itu mereka sudah berhasil memulihkan dana lebih dari $100 miliar (Sekitar Rp1.350 triliun).

Saat itu kantor jaksa penuntut umum mengatakan 56 orang masih ditahan, namun menurut beberapa laporan, sisa tahanan itu dipindahkan dari Ritz-Carlton ke sebuah penjara biasa.

Rangkaian penangkapan dan penahanan dilancarkan setelah terbentuknya sebuah badan anti-korupsi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Muhammad bin Salman.

Di antara yang telah dibebaskan adalah sejumlah pangeran berpengaruh seperti investor kaya raya Pangeran Alwaleed bin Talal, kepala jaringan MBC TV Waleed al-Ibrahim, dan mantan kepala staf istana Khalid al-Tuwaijiri.

Media melaporkan, kesepakatan dengan Pangeran al-Ibrahim mungkin mencakup pula penguasaan saham di MBC—perusahaan media terbesar di Timur Tengah.

Kepala Garda Nasional, Miteb bin Abdullah, 65 tahun, yang pernah dipandang sebagai salah satu calon pewaris tahta kerajaan, dibebaskan pada bulan November setelah menyetujui ‘kesepakatan penyelesaian,’ dengan pihak berwenang, senilai lebih dari $1 miliar (Rp13,5 triliun).

Pangeran Miteb yang merupakan putra almarhum Raja Abdullah itu adalah pangeran yang secara politik paling berpengaruh yang ditahan.(Tri)