Saturday, 26 May 2018

Di Sukabumi, Penetapan Nomor Paslon Diboikot

Selasa, 13 Februari 2018 — 19:02 WIB
Sesi konpers rapat pleno penetapan dan pengundian nomor urut kandidat KPUD Kota Sukabumi diboikot wartawan.

Sesi konpers rapat pleno penetapan dan pengundian nomor urut kandidat KPUD Kota Sukabumi diboikot wartawan.

SUKABUMI – Agenda rapat pleno terbuka pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon (paslon) peserta Pilkada di Gedung Djuang 45, Kota Sukabumi, Jawa Barat diwarnai protes sejumlah wartawan, Selasa (13/2/2018).

Mereka memprotes lembaga penyelenggara Pemilu itu lantaran terkesan kurang fleksibel dalam menyiapkan lokasi konferensi pers (konpers) antara para kandidat dengan jarak wartawan cukup berjauhan. Padahal, suasana di lokasi saat itu cukup riuh dan bising sehingga menyulitkan mereka dalam melakukan wawancara.

Melihat hal itu, sejumlah wartawan sempat memberitahukan keberatan kepada panitia penyelanggaran acara agar jarak mereka dengan narasumber yang merupakan para kandidat lebih didekatkan. Namun, tampaknya protes awak media tak dihiraukan. Malah, salah seorang panitia melarang awak media dengan nada sedikit keras.

Mendengar pelarangan terkesan kurang santun itu, wartawan yang kebanyakan dari media cetak maupun elektronik, baik online maupun televisi akhirnya membubarkan diri dan memilih melakukan teknik doorstop atau wawancara ke narasumber langsung di luar gedung.

Sementara, area konferensi pers tersebut kosong. Bahkan, seluruh kandidat pun meninggalkan area jumpers itu dan tak mengindahkan panitia KPU Kota Sukabumi.

Apit Haeruman, wartawan Metro TV menyesalkan pengaturan panitia dalam sesi konferensi pers tersebut karena jaraknya cukup berjauhan. Terlebih, dia sebagai wartawan televisi yang membutuhkan sesi wawancara harus lebih dekat, khawatir suara narsum tidak terdengar mengingat suasananya lumayan ramai dan riuh.

“Kami sudah mencoba menjelaskan namun tetap saja tak digubris. Malah salah seorang panitia seperti tidak terima dan mengeluarkan kata yang cukup keras sambil bilang “paham ga kalian”. Merasa tak dihargai, kami meninggalkan lokasi jumpers dan menunggu wawancara di luar secara doorstop,” cetusnya.

Menanggapi peristiwa itu, Ketua KPU Kota Sukabumi Hamzah meminta maaf. Dia memastikan ke depannya tidak akan terulang kejadian serupa. “Kalau ada hal teknis yang tidak sesuai, kami mohon maaf. Ini human error. Kami butuh dukungan media, nantinya akan dibuat lebih fleksibel,” tandasnya.

Untuk diketahui, rapat pleno terbuka pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon (paslon) itu diikuti empat kandidat. (sule/win)