Tuesday, 13 November 2018

Ini Cerita Korban Selamat dari Kecelakaan Tanjakan Emen

Selasa, 13 Februari 2018 — 21:40 WIB
Ny. Karmila, warga Pisangan, Ciputat Timur yang selamat dari bus maut di Tanjakan Emen, Subang. (anton)

Ny. Karmila, warga Pisangan, Ciputat Timur yang selamat dari bus maut di Tanjakan Emen, Subang. (anton)

TANGERANG – Kecelakaan bus wisata di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, yang membawa anggota Koperasi Permata, Kelurahan Pisangan Timur, Ciputat masih membawa kesedihan dan duka yang mendalam .

Hal ini karena sejumlah teman, kerabat dan tetangga yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan PKK maupun anggota Koperasi Permata telah pergi untuk selamanya. Setidaknya hal ini dirasakan oleh Ny. Karmila,44, warga Kampung Legoso, Pisangan Timur.

Sebelum musibah terjadi dirinya yang berada dalam rombongan bus no 1 yang ditumpangi oleh 51 anggota dari Lembang menuju pemandian air panas Sari Ater, Subang

Saat itu kondisi bus dalam keadaan biasa saja. Namun, sesampainya di Tanjakan Emen bus yang ditupangi masih normal namun saat kondisi badan jalan menurun secara tiba-tiba menjadi kencang kemudian menabrak motor di depan bus.

Usai menabrak sepeda motor kemudian bus menabrak tebing pinggir jalan dan terguling hingga badan bus terseret dan kemudian berhenti. Teriakan minta tolong dan menanggis dalam bus sangat terdengar keras. Dirinya kemudian berusaha berdiri dari tempat duduk yang telah terbalik dan menyaksikan belasan penumpang dalam bus berteriak minta tolong serta merintih kesakitan, katanya.

“Saya berusaha mencari pegangan ke besi pegangan hordeng kemudian merangkak kemudian berdiri menuju pintu depan dengan cara memanjat untuk keluar dari dalam bus yang terbalik karena takut bus meledak,” tuturnya sedih yang mengaku prihatin melihat warga sekitar maupun pengendara lain yang melintas tidak langsung atau sigap membantu penumpang yang ada dalam bus dalam keadaan terbalik.

Karmila, menuturkan warga sekitar tidak langsung menolongi meski penumpang sudah berteriak minta tolong . Justru kebanyakan malah mengabadikan peristiwa tersebut menggunakan handphone. “Itu yang membuat saya kesal, kecewa serta sedih melihat aksi tersebut,” tuturnya.

Lebih prihatin dan kecewa lagi saat saya ingin meminjam Handphone kepada salah satu warga atau masyarakat yang ada di dekat lokasi kejadian untuk menghubungi keluarga di rumah sama sekali tidak diindahkan. “Mereka semua cuek dan hanya sibuk mengambil gambar kecelakaan,” tuturnya.

Saking kesal dan marah dengan aksi warga di dekat kejadian mobil bus terbalik, Ny. Karmila mengaku sempat berteriak. ” Eh Tolong dong ini Bukan Sinetron!”

Meski sudah diteriaki namun satu warga beralasan tidak punya pulsa dan low batt tapi mereka tetap saja mengambil gambar tanpa memperdulikan korban yang minta tolong dan menanggis di pinggir jalan, ujarnya. (anton/b)