Saturday, 17 November 2018

Jika Bekas Guru Celamitan Murid Hamil Malah Kabur

Selasa, 13 Februari 2018 — 7:06 WIB
bongsor

JIKA Pak Guru Mangun, 57, berotak waras, mestinya tak tega menodai Indah, 17, yang sepantar anaknya di rumah. Tapi karena setan jadi panglima, ABG berjilbab itu berhasil dinodai. Celakanya, setelah hamil malah kabur. Terpaksa Indah membuang bayinya sampai kemudian jadi urusan polisi.

Guru adalah sosok yang dihormati, meski pemerintah kurang bisa menghargai. Buktinya masih ratusan ribu guru hanya digaji honorer, bukan PNS. Jaman sekarang hanya dihonor Rp 400.000,- sebulan, bagaimana nggak kurus kering? Maka tak ayal Pak Guru macam Budi Cahyono dari Sampang (Madura), sekali pukul oleh muridnya yang kurang ajar, langsung meninggal.

Nasib Pak Guru Mangun dari Gondangrejo Kabupaten Karanganyar (Jateng), tak sampai seperti itu. Dia sudah jadi lama jadi PNS bahkan dapat tunjangan sertifikasi. Ditilik dari usianya, Pak Mangun masih punya masa kerja 3 tahun lagi. Habis itu baru pensiun, menikmati hari tua bersama anak cucu.

Tapi meski masa kerja tinggal sedikit, Pak Guru yang terpaksa disebut oknum ini tak menyadari akan ketuaannya. Melihat wanita cantik, ukuran celananya masih langsung berubah, dari M ke XL. Bahkan pada bekas muridnya yang masih ABG, Pak Mangun punya hasrat untuk meniduri. Memangnya si murid itu kasur, kok mau ditiduri?

Ya bukan, tapi lihat potongannya yang bongsor dan enak disosor, menjadikan Pak Mangun kedep tesmak (melotot) setiap nyawang (melihat) Indah pakai jilbab biru. Meski bocah itu lebih cocok jadi anaknya, Pak Mangun masih juga bisa membayangkan yang ngeres-ngeres bersama si murid.

ABG yang tinggal di Gondangrejo, ini sebetulnya tak menanggapi aspirasi urusan bawah bekas gurunya itu. Tapi Pak Mangun yang jago melobi itu terus mendekati. Sampai-sampai Indah pilih keluar dari SMA-nya dan jadi tukang jahit di rumah. Tapi tetap saja Pak Mangun memburunya, persis Prabu Dasamuka mengejar Dewi Sinta.

“Cewek model Indah, satu putaran juga kena!” kata Pak Mangun, seperti mau ikut Pilkada serentak saja. Dan Pak Guru memang menggunakan cara-cara Pilkada. Dia suka memberikan sembako setiap ke rumah Indah. Bahkan sering pula dilakukan money politic meski hanya barang Rp 20.000,- hingga Rp 50.000,- Bahkan Pak Mangun pernah punya menjanjikan rumah tapak ber-DP nol rupiah untuk Indah.

Begitu pintarnya Pak Guru menata kata, lama-lama luluh juga. Berkali-kali Indah dibawa ke hotel digauli dengan janji untuk dinikahi. Padahal, begitu dirinya hamil, Pak Guru habis kencing enak terus berlari, dan si murid tinggal berdiri menahan tangis.

Ya, Pak Mangun terus berlari, mau hilangkan pedih peri seperti Chairil Anwar. Dia memang akan merasa pedih jika diomeli istri dan anak-anaknya, gara-gara menghamili bekas muridnya. Tinggal kini Indah yang harus menyelesaikan sendiri kehamilan di perutnya tersebut.

Sampailah kemudian penduduk desa menemukan tangisan bayi tengah malam di belakang rumah seorang warga. Bayi masih hidup, dan setiap wanita hamil di kampung itu disweping. Hasilnya mengarah pada Indah. Dalam pemeriksaan polisi dia mengakui terpaksa membuang bayinya karena Pak Guru Mangun tak mau tanggungjawab. Oknum guru itupun kini dalam pengejaran.

Guru habis kencing enak berlari, muridnya yang menangis berdiri. (KR/Gunarso TS)