Monday, 19 February 2018

Mengejar Rezeki Sampai Mati

Selasa, 13 Februari 2018 — 5:15 WIB
yangakay

PERGI pagi pulang pagi utuk mengais rezeki. Ya, syukur kalau dompet bisa terisi? Dan ada yang pergi jauh, sampai tiga Lebaran nggak pulang pulang, tak membawa uang. Ada yang begitu?

Jadi seharusnya bolehlah koreksi. Mengapa begitu? Kok, yang lain bisa membawa uang sekarung? Kok, lainnya nggak bisa? Mengapa? Boleh bertanya, tapi juga harus dikaji, dan renungkanlah!

O, iya ternyata mereka begini begitu, usaha lancar karena ya, pertama serius, pas yang diusahakan sesaui dengan keinginan atau bakatnya. Mereka berdagang, misalnya, nggak curang, takaran sesuai dengn timbangan. Cari untung nggak perlu besar, kecil tapi terus menerus. Tak ingkar janji, tepat waktu, barang yang dijual bagus, nggak menipu! Dst.

Bekerja di pabrik, di kantor, proyek juga rajin, disiplin. Nggak pernah lalai dengan tugas, sesuai prosedur. Kalau tukang atau kenek bangunan proyek, bikin adukan semen pasir sesuai hitungan. Nggak pernah dikurang-kurangi. Soalnya, jika curang, maka bangunan bisa ambruk sebeklum waktunya. Banyak contoh, sudah pada paham. Banyak korban tertimbun ambruknya bangunan yang rentan!

Nah, ada yang kerja keras, tapi hasilnya nggak berkah. Padahal, kayaknya dia dapat uang banyak, tapi ternyata buat foya-foya di dunia malam, asyik dengan pelukan wanita. Kaya lagu, kalau ngopi, ya ke pedagang kopi lendot? Dimana, si penjual, cewek-cewek ayu dan wangi, ngelendot sambil meraba kantong dan donpet si pelanggan. Ya, habislah!

Jadi klau begitu, duit banyak tapi nggak ada bekasnya, cape doang, karena buat foya-foya. Bahkan keluarganya juga dilupakan! Itulah yang disebut cari rezeki mati-matian sampai mati. Hasilnya habis nggak jelas, dimakan setan! -massoes