Friday, 27 April 2018

Petak Sembilan Riwayatmu Doeloe

Selasa, 13 Februari 2018 — 5:00 WIB
Pasar Petak Sembilan. (cw4)

Pasar Petak Sembilan. (cw4)

JAKARTA – Sedari dulu, kawasan Glodok, Jakarta Barat, dan sekitarnya memang sudah ramai karena aktivitas ekonominya, hiruk pikuknya tak bisa dilepaskan dari orang-orang Tionghoa. Saat ini, kawasan ini adalah gang sempit nan panjang dengan aneka pedagang di sisi kanan dan kirinya.

Sejarah mencatat bahwa Glodok berkembang menjadi pecinan dan pusat perdagangan setelah 1740, ketika terjadi pembantaian orang-orang China di luar kota Benteng. Membahas Glodok dan mayarakat Tinghoanya kurang rasanya jika tidak membahas suatu kawasan unik yang bernama Petak Sembilan.

Kenapa unik? Petak Sembilan bisa dikatakan sebagai pusat aktivitas etnis Tionghoa di Batavia (Sekarang Jakarta) mulai dari aktivitas sosial, ekonomi, budaya dan keagamaan terdapat di tempat ini, Hal ini dibuktikan dengan adanya pasar Petak Sembilan dan Klenteng Dharma Bhakti yang muncul sebagai simbol peradaban etnis Tionghoa di kawasan ini.

Jika melihat wujud kebudayaan yang diwariskan, Petak Sembilan bisa dikatakan kawasan yang memiliki sejarah panjang. Lalu dari manakah asal nama Petak Sembilan?

Poskotanews.com mencoba menelusuri. Meski tidak ada yang mengatahui pasti asal-usul nama Petak Sembilan, namun cerita yang berkembang dari generasi ke generasi menunjukan bahwa identitas tersebut masih tersimpan dalam ingatan warga setempat.

Salah satu sesepuh Petak Sembilan sekaligus pedagang di Pasar Petak Sembilan adalah Yanto atau Chong Ing Sui. Lelaki 77 tahun ini menuturkan nama tersebut telah ada sejak ia lahir.

Yanto alias Chong Ing Sui(cw4)

Yanto atau Chong Ing Sui. (cw4)

 

“Kalau menurut cerita orang tua dulu, di tempat ini dulu ada rumah gedong dan jumlahnya ada sembilan,” ungkapnya.

Kisah serupa namun tak sama juga diuraikan oleh Agus (43). Pengurus Klenteng Dharma Bhakti ini mengisahkan ayahnya kerap menceritakan dahulu di kawasan tersebut terdapat pemukiman saudagar Tionghoa. Namun ia tak tahu pasti jumlah rumah di permukiman itu.

Berdasarkan penuturan ayahnya ia menjelaskan bahwa rumah saudagar tersebut kerap dikunjungi oleh banyak orang. “Bapak sering cerita dulu waktu masih hidup, kalau orang sering nongkrong di tempat itu, kaya ngopi atau sekedar jajan. saya juga nggak tahu aslinya kayak gimana tuh nama bisa tercipta.” katanya.

Tak terlepas dari etnisitas dan sejarah panjangnya, kawasan ini telah muncul sebagai potret kerukunan dan keberagaman. Harmoni ini seudah semestinya dijaga bersama agar berusia lebih panjang lagi. (cw4/yp)