Monday, 24 September 2018

Tukang Becak Jakarta Khawatir Ada Urbanisasi Becak dari Daerah

Selasa, 13 Februari 2018 — 9:12 WIB
Awan, tukang becak di Jakarta Barat khawatir ada urbanisasi becak dari daerah.(Cw5)

Awan, tukang becak di Jakarta Barat khawatir ada urbanisasi becak dari daerah.(Cw5)

 JAKARTA – Sebulan sesudah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengizinkan tukang becak untuk beroperasi dilokasi tertentu di Jakarta, isu “urbanisasi” becak dari daerah membuat pengemudi becak di Kelurahan Wijaya Kusuma, Jakarta Barat, was-was.

Satu tukang becak, Awan, mengaku khawatir ketika mendengar kabar tersebut. “Waduh, ini aja udah susah,  kalau ada becak lain lagi, makin susah dong,” tandasnya.

Tukang becak yang sudah mengayuh becaknya selama 18 tahun ini menganggap becak kurang diminati warga lagi. “Dulu, anak kecil sekolah pada naik becak ini, lah sekarang anak kecilnya udah punya anak lagi, mereka nganter anak-anaknya pakai motor sendiri,” keluh pria kelahiran Jakarta ini.

Namun menurutnya, mungkin itu sudah i rezeki orang-orang itu punya motor. “Tandanya  rezeki mereka bagus,  makanya bisa beli motor.  Tapi alhamdulillah, becak saya masih diminati sama ibu-ibu yang belanja di pasar, barang belanjanya kan banyak tuh,” tambahnya.

Bapak berusia 35 tahun ini berharap Pemprov DKI Jakarta tegas menghadang datangnya becak-becak dari luar daerah. Pasalnya, para tukang becak yang sudah mengantongi izin dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut tidak ingin menghalangi rezeki orang.

Namun mereka khawatir akan keselamatan tukang becak baru, karena kondisi jalan di Jakarta dan daerah lain sangat berbeda. “Kita juga sadar kalau becak bikin macet, makanya kita tahu diri nggak pernah keluar jalan raya, lagipula siapa yang mau naik sih di jalan raya, kasihan juga pengendara motor dan mobil jadi terhambat,” ujarnya.
Selain kondisi jalan, kondisi keamanan masing-masing juga tidak sama. Ia pernah diintai petugas yang menyamar sebagai pembeli minuman ketika hendak istirahat menunggu penumpang. Tanpa berbicara banyak, petugas itu langsung membawa becak yang saat itu belum lunas cicilannya ke atas mobil bak.

“Waktu itu saya baru mengantar penumpang, belum juga ngelap keringet, tiba-tiba ada 3 orang  yang tadinya saya kira mereka itu warga. Abis minum es kelapa, langsung ngangkut becak saya,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Setelah becaknya diangkut, itulah saat terakhir dia melihat becak warna-warni tersebut. Pak Awan mencari nafkah dengan membuka jasa reparasi alat-alat elektronik sambil menabung untuk melunasi cicilan becak sebelumnya untuk kemudian bisa mencicil becak yang baru. “Becak yang saya pakai ini udah yang keempat,” tutupnya. (Cw5/tri)