Thursday, 16 August 2018

Dulu Pemulung, Kini jadi “Bos Kardus”

Rabu, 14 Februari 2018 — 6:34 WIB
os Kardus Musta'in yang mengawali pekerjaan pengelola limbah sebagai pemulung. (joko)

os Kardus Musta'in yang mengawali pekerjaan pengelola limbah sebagai pemulung. (joko)

JAKARTA – Rezeki seseorang memang sudah ada yang mengatur dan ibarat roda berputar, kadang di bawah kadang di atas. Namun untuk memperbaiki status ekonomi tidak serta merta datang dengan sendirinya karena butuh perjuangan dan doa.

Itulah keyakinan melekat pada diri Musta’in yang dulunya mencari nafkah sebagai pemulung kini sudah meningkatkan ‘karir’ sebagai juragan pengelola limbah industri yang sukses.

Musta’in yang berasal dari Tuban, Jawa Timur mengawali pekerjaannya sebagai pemulung pada awal tahun 2000-an. Tiap hari sejak jam 03.00, dia sudah bangun dan mulai bekerja mendorong gerobak keluar masuk pasar untuknmengais barang bekas seperti kardus dan plastik di tempat sampah.

“Selama satu setengah tahun pekerjaan berat itu saya tekuni,” tutur Musta’in di salah satu lapaknya di Gang Sosial, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (13/2).

Saat menjual barang bekas ke juragan lapak, Mastain selalu berpikir bahwa bisnis ini cukup prospektif dan ia ingin memperbaiki nasib menjadi juragan lapak.

Sejak itu ia rajin menabung dan setelah uang terkumpul, dia mengajak lima temannya dari kampung menjadi pemulung di Jakarta. Mereka masing-masing dibelikannya gerobak dan hasilnya dijual kepada Musta’in yang akrab dipanggil Mas Tain atau Bos Kardus.

Lama-kelamaan, jumlah anak buah terus bertambah dan penghasilan berlipat. Apalagi sejumlah perusahaan menjadi mitra bisnis dalam pengelolaan sampah seperti pusat perbelanjaan Ramayana dan Robinson di Pasar Minggu, maka pria kelahiran 1982 pun duitnya makin berlimpah dan bisa melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Indraprasta PGRI.

“Saya semakin mantap menekuni bisnis barang bekas karena prinsipnya jumlah manusia yang terus bertambah, maka jumlah sampah pun meningkat,” ujar Mustain yang kini memiliki binaan sekitar 200 pemulung.

Pemulung tersebut juga diberikannya motivasi untuk meningkatkan usahanya dan sebagian besar kini juga mulai sukses. “Saya punya semboyan bahwa orang baik harus bermanfaat bagi orang lain,” tambah Mustain yang beristrikan Sinta Rosiana dan dikarunia dua anak.

Setelah usahanya makin sukses Mastain mendelegasikan pengelolaan bisnisnya ke sejumlah orang terdekatnya. Dia hanya sesekali mengontrol dan memberikan arahan supaya perusahaan pengelola limbah itu tetap berjalan lancar dan bermanfaat bagi banyak orang.

Bagi orang-orang di lingkungannya, Mastain dijuluki sebagai Bos Kardus. Ia pun mengaku senang dengan julukan tersebut dan mencantumkan kata Bos Kardus pada kartu namanya. “Saya berharap agar Pemprov DKI Jakarta lebih memperhatikan pemulung karena mereka layak disebut sebagai pahlawan lingkungan,” ujar Mastain yang kini tengah mengenyam pendidikan S-2.

Selama ini Mastain juga telah mengantarkan lima anak angkatnya sukses meraih gelar sarjana di berbagai disiplin ilmu. Dia juga banyak dikenal di kalangan komunitas pencak silat karena merupakan salah satu juri. (joko/b)