Sunday, 25 February 2018

Hobinya Nobar Film Biru Bersama Pembantu

Rabu, 14 Februari 2018 — 6:26 WIB
nontont

SANGGITO, 43, paling benci lelaki munafik. Maka ketika suami lain nonton film biru secara diam-diam, dia justru nobar (nonton bareng) bersama tiga pembantunya sekaligus. Ny. Isti, 40, begitu tahu kelakuan suami langsung menuntut cerai. Padahal pihak Pengadilan Agama juga heran, soal begitu saja kok harus cerai?

Meski sering jadi praktisi adegan porno, suami paling risih jika nonton film biru secara terbuka. Biasanya dilakukan diam-diam, tanpa diketahui anak istri. Maka di mata publik dia tercatat sebagai lelaki santun, beriman. Padahal aslinya berotak ngeres. Dalam otaknya bertabur gambar seronok dan mesum.

Sanggito yang tinggal di bilangan Tandes, Surabaya, di kalangan masyarakat sekitarnya cukup dikenal. Selain kaya dan suka berderma untuk urusan publik, orangnya memang pintar bergaul. Begitu kayanya dia, pembantunya saja ada tiga, dua wanita dan satu lelaki. Semuanya sudah berusia oversek, alias over seket atau di atas 50 tahun.

Di kalangan warga Sanggito dikenal royal. Bila dimintai dana HUT RI atau kerjabakti masal, tak sayang mengeluarkan dana sampai Rp 1 juta, paling apes Rp 500 ribu. Maka di kalangan warga ada istilah SDSB, yakni: Sanggito Datang Semuanya Beres.

Sanggito juga punya hobi nonton film. Tapi bukan di bioskop, melainkan pakai video di rumah sendiri. Filmnya bukan yang biasa diputar di layar lebar, melainkan film porno. Karena film begituan, dia nontonnya diam-diam. Jika istri tak di rumah, barulah dia berani muter bersama 3 pembantunya sekaligus. Tapi bila istrinya di rumah, ya tak berkutiklah. Maka berulangkali dia mencari akal, agar istri bisa lama di rumah orangtuanya. Di situlah dia bebas nonton film menggairahkan tersebut.

Awalnya pembantu malu-malu nonton film begituan, takutnya malah nanti jadi sasaran majikan. Tapi ternyata Sanggito bisa memelihara konsensus. Meski adegan dalam film biru itu begitu merangsang, dia tak pernah menjadikan para pembantu wanitanya jadi pelampiasan.

Sekali waktu pas bini tak di rumah, kembali Sanggito nobar bersama tiga pembantunya di kamar sambil rokok-rokokan. Ee, tahu-tahu Esti balik kembali. Nah, dengan mata kepala sendiri dia melihat betapa suami dan pembantu nonton film perusak mental itu. “Kayak anak muda saja, sampeyan mempelopori nonton film begituan,” maki istrinya.

Yang sungguh tak terpikirkan Sanggito, hanya gara-gara kasus tersebut, Isti bertekad mengakhiri kerjasama rumahtangga yang sudah dibangun lebih dari 15 tahun itu. Tanpa memikirkan akibatnya kelak, langsung saja gugatan itu didaftarkan ke Pengadilan Agama Surabaya.

Tentu saja pihak Pengadilan Agama jadi heran. Jika sekedar nonton film pono, kan sekedar zina mata, bukan zina sesungguhnya. Masak begitu saja harus bercerai. Kasihan kan anak-anak. Suami kan bukan nabi, hanya manusia biasa, kenapa hanya nonton film begituan harus ditalak?

Itu namanya Isti termasuk golongan kaum reaksioner. (JPNN/Gunarso TS)