Tuesday, 20 February 2018

Tukang ServiceTermos Ini Berani Menantang Zaman

Kamis, 15 Februari 2018 — 7:10 WIB
Yusuf Supriyadi  dengan termos yang dia service

Yusuf Supriyadi dengan termos yang dia service

TANGERANG – Sore hari di sela rintik hujan, di Jalan Daan Mogot Kalideres Jakarta Barat terlihat laki-laki paruh baya yang sedang mengayuh sepedanya dengan rak termos di belakangnya

Tak lama ia berhenti dan memeriksa sepedanya yang sulit dikayuh. Saat dihampiri laki-laki paruh baya ini menjelaskan bahwa ia seorang tukang service termos. Laki- laki itu bernama Yusuf Supriyadi (54). “Sore Mas kenalin nama saya Yusuf, saya tukang service termos, Mas ada termos rusak biar saya service” tawarnya.

Yusuf menceritakan kisahnya, bahwa dirinya belum mendapat satupun pelanggan dari sejak pagi. ” Ya Tuhan susah yah nyari orang yang termosnya rusak ,sekarang orang pada make dispenser, andaikan termosnya rusak juga paling mereka lebih milih beli baru, mungkin besok rejeki saya Mas, ” keluhnya seraya berdoa.

Yusuf mengaku telah berkerja menjadi penyervice termos selama 20 tahun. Jika dilihat dari perkerjaannya, tidak banyak orang yang mengatahui bahwa ada orang seperti Yusuf, yang kesehariannya berkerja sebagai penyervice termos.

Termos yang biasa digunakan untuk menyimpan air panas, kini perannya hampir digantikan oleh dispenser. Hal itu pun dirasakan oleh Yusuf. Ia menjelaskan bahwa mendapat satu pelanggan saja sudah sangat beruntung, karena kerap kali ia tidak mendapat hasil setelah seharian berkeliling kampung dari gang ke gang sampai ke kota.

Setelah berbincang cukup lama Yusuf mengajak poskotanews.com untuk berkunjung ke rumah kontrakannya di Jala. Pinus Kampung Dongkal Cipondoh Tangerang.

Sampai di rumahnya dia memperkenalkan o stri dan anaknya. Rusmiani (56) dan Rahmat (20). Cerita pun berlanjut sesampainya di rumah. Rusmiani yang berkerja sebagai tukang masak jika orang memiliki hajat mengungkapkan, bahwa mungkin hanya suaminya yang berkerja sebagai tukang service termos,

“Saya kadang suka mikir Mas orang-orang tahu gak sih kalau ada tukang service termos”,ungkapnya.

Yusuf menceritakan bahwa dahulu masih cukup banyak orang yang menyervice termos. Ia mampu mendapatkan dua atau tiga pelanggan dalam sehari.

Menurutnya Termos sama seperti manusia yang harus diperlakukan secara halus, jika tidak ingin mudah rusak. “Banyak yang marah-marah ke saya karena airnya gak panas saya dikatain tukang tipu, tapi saya jelasin pelan-pelan ke mereka termos itu harus diperlakukan halus karena dia dalamnya kaca, sama kaya hati manusia harus diperlakukan halus juga supaya gak rusak pertemanan kitam ” jelasnya seraya tertawa.

Rahmat anak Yusuf yang sehari-harinya berkerja menjaga toko sudah menyuruhnya untuk berhenti berkerja sebagai penyervice termos, namun Yusuf selalu menolak.

“Saya sudah sering ngomong ke bapak buat berhenti tapi bapak gak mau. Yaellah Mas zaman sekarang siapa sih yang mau nyervice termos, udah gak ada mungkin” ujarnya

Namun Yusuf punya pandangan lain mengenai perkerjaannya. Menurutnya berkerja sebagai penyervice termos, bukanlah perkejaan hina. Ia meyakini masih ada termos-termos yang rusak di dapur-dapur rumah masyarkat kita. Walaupun ia akui perubahan sedang terjadi.
“Jadi tukang service termos gak hinakan yaa mas, toh saya yakin Tuhan maha adil, pasti ada orang yang termosnya minta di service sama saya. Sambungnya

Dalam menyervice Yusuf menaruh harga Rp 40.000 untuk ganti kaca dan 20.000 untuk kulit dalam dan kulit luar. Sebenarnya harga ini tidak berbeda jauh dengan harga termos baru.
Namun Yusuf unggul dalam hal kualitas barang, garansi dan jaminan, saat termos pelanggan di service ia memberi termos pengganti agar digunakan pelanggan.

“Yahh ini perkejaan langka sekarang, tapi dengan perkejaan langka ini saya ingin membahagiakan keluarga”.tutup Yusuf.(cw4/b)