Wednesday, 26 September 2018

Low Entry dan Lo Antre

Sabtu, 17 Februari 2018 — 6:14 WIB
dulkar

Oleh S. Saiful Rahim

SEGERA setelah suara ucapan assalamu alaykum menembus masuk ke warung kopi Mas Wargo, di antara suara-suara jawaban alaykum salam, ada satu suara yang berbeda. Lain dari yang lain dan berunsur perintah.

“Berdiri-berdiri,” kata suara itu, “Orang yang kita tunggu-tunggu sudah datang,” sambung suara yang ternyata keluar dari mulut orang duduk dekat pintu masuk warung.

“Kau memang harus berdiri. Kalau tidak, aku tak akan bisa masuk karena kau menghalangi jalan. Para hadirin yang lain tenang-tenang sajalah. Kalian tidak mengganggu lalu lintas seperti pedagang kaki lima yang tumpah ke jalan raya. Jadi tidak perlu berdiri,” kata Dul Karung sambil masuk dengan posisi miring sehingga dengan mudah dia bisa meraih singkong goreng kesukaannya.

Semua orang di warung kopi itu pun tertawa. Kecuali orang yang duduk di dekat pintu masuk itu, dan Mas Wargo senantiasa bersikap santun kepada pelanggannya.

“Apa yang kalian ingin ketahui dariku?” tanya Dul Karung dengan sedikit jumawa.

“Kemelut soal angkutan umum. Kayaknya gak beres-beres. Rabu lalu aku kelabakan kena imbas demo, katanya sih demo pengemudi taksi daring. Aku dari Krukut ke Pulo Gadung. Berangkat pukul 15:30 tiba pukul 18:40. Lalu dari Pulo Gadung ke BSD. Aku berangkat pukul 18:50 tiba pukul 21:46. Padahal aku lewat jalan tol.

“Sebelum itu, aku dengar cerita temanku terusik perjalanannya Senin lalu karena ada demonstrasi dari pengemudi Mikrolet M-44 jurusan Kali Malang- Karet sebab di jalurnya masuk bus Transjakarta nonkoridor jurusan Kampung Melayu- Tanah Abang. Tempo hari, sekitar awal tahun 2018, pengemudi Metromini S610 jurusan Blok M-Pondok Labu mencegat Transjakarta nonkoridor.

” Kalau kondisinya seperti ini terus pengguna mobil pribadi tidak yakin akan aman dan nyaman bila mereka pindah ke angkutan umum,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Saudara jangan pesimistis dulu dong,” kata orang duduk di ujung kanan bangku panjang sebelum Dul Karung buka mulut.

“Percayalah pemerintah punya rencana yang masak dan rapi untuk kepentingan masyarakat luas. Baik pengguna angkutan umum maupun mereka yang selama ini mampu dan merasa nyaman menggunakan kendaraan pribadi.

“Ketahuilah Saudara-saudara semua, nun jauh di Kudus dan juga Ungaran, beratus-ratus bus sedang dibuat karoserinya untuk kelak dioperasikan sebagai angkutan umum di Jakarta, dan juga untuk keperluan Asian Games. Seingatku, di saat Bung Karno menjadi presiden dulu, Asian Games diselenggarakan dengan amat membanggakan. Bukan hanya bus, taksi pun ada yang khusus beroperasi selama Asian Games. Bahkan nomor polisi bus dan taksi itu menggunakan nomor khusus juga. Tidak dimulai dengan huruf B, tetapi ASG. Misalnya ASG 2018, bukan B 2018.

“Sekarang ada ratusan bus sedang dibuat karoserinya Jawa Tengan sana dengan pintu rendah. Semua bus itu bermerk terkenal seperti Mercedes-Benz. Semua bus merupakan bus low entry dan berbahan baku baja ringan,” sambung orang berpakaian perlente dan kelihatan tahu banyak soal bus itu.

“Jangan-jangan kalau nanti semua wargakota naik bus, bukan hanya ada bus low entry tapi juga ada lo antre karena busnya gak cukup,” kata Dul Karung seraya pergi dengan begitu saja. (syahsr@gmail.com )*