Monday, 26 August 2019

Jarang Masak, Istri Bisa Digugat Cerai

Kamis, 22 Februari 2018 — 18:10 WIB
Jakarsih, Juru Bicara Pengadilan Agama Jakarta Selatan. (cw2)

Jakarsih, Juru Bicara Pengadilan Agama Jakarta Selatan. (cw2)

JAKARTA – Berbagai macam hal dapat dijadikan alasan untuk berpisah dengan pasangan. Dari yang berat, seperti KDRT, atau pun selucu hanya karena tidak pernah memasak untuk suami.

Pantauan dari Poskotanews.com, pada Kamis ini (22/2/2018), Pengadilan Agama Jakarta Selatan ramai dikunjungi. Entah yang baru saja mendaftarkan gugatan maupun yang melaksanakan sidang lanjutan cerai. Namun ada hal unik yang terjadi, ketika seorang ibu-ibu yang melintas, dan mempermasalahkan gugatan cerai dari sang suami karena dirinya jarang memasak di rumah. Hal ini agak menggelitik sebenarnya.

Ditemui oleh poskotanews.com, Jarkasih, Juru Bicara PA Jakarta Selatan mengatakan alasan-alasan unik seperti itu sebenarnya kerap kali terjadi. Pada kasus sebelumnya, ia menjelaskan kalau dalam hukum, hal itu memang dapat dijadikan alasan untuk menggugat cerai. Namun kembali lagi, hal itu bergantung pribadi masing-masing.

“Sebenarnya itu spesifik tergantung manusianya. Dalam hal hukum itu masuk ke dalam salah satu pihak tidak menjalankan kewajiban,” terang Jarkasih.

Menurutnya, kewajiban seorang istri memang melayani suami. Begitu pun kewajiban suami untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya.

Jarkasih menambahkan bila seorang suami tidak memberikan nafkah pada istrinya, atau kebalikannya, maka dapat diajukan gugatan cerai dari pihak yang merasa dirugikan. Ini karena suami istri dalam keluarga punya hak dan kewajiban sebagai partner dalam rumah tangga.

“Seorang istri tidak menjalankan kewajibannya seperti contoh tadi, entah gak memasak, gak mengurus rumah tangga, suami dalam hal ini dapat mengajukan gugatan atau permohonan cerai kepada pengadilan dengan alasan istrinya tidak menjalankan kewajibannya,” jelasnya.

Ia pun menambahkan, ada banyak alasan unik dipersidangan pada saat gugat cerai. Seperti suami yang malas bekerja dan tidur saja di rumah.

“Contohnya malas, maunya tidur terus. Suaminya kerjaanya tidur terus, nggak mau kerja, dari pagi sampai pagi lagi tidur saja, ada juga yang demikian. Jadi memang variatif. Tapi dalam konteks hukum kan disatukan, itu masuknya ke dalam suami istri tidak menjalankan hak dan kewajibannya. Itu ada pasalnya,” tandas Jarkasih. (cw2/yp)