Friday, 16 November 2018

Love Bird Kini Sangat Digemari Pecinta Burung

Kamis, 22 Februari 2018 — 18:39 WIB
Peternakan lovebird sistem koloni menggunakan kandang besar yang berisi sekitar 100 ekor. (joko)

Peternakan lovebird sistem koloni menggunakan kandang besar yang berisi sekitar 100 ekor. (joko)

JAKARTA – Lovebird kini merupakan salah satu jenis burung paruh bengkok yang paling digemari kicaumania di Tanah Air. Hal itu terlihat dari pasarannya yang sangat laris dan jumlah kelasnya paling banyak di setiap kegiatan lomba burung berkicau. Tiap lomba burung, minimal ada enam kelas lovebird.

Fenomena meningkatnya penggemar lovebird ini baru terjadi setelah awal tahun 2000. Padahal sebelumnya keberadaan burung ini hanya dipandang sebelah mata karena dianggap tidak bisa berkicau.

Namun di kemudian hari, banyak komunitas yang mulai menyukai suara lovebird yang disebutnya sebagai kekekan atau ngekek. Intinya kalau ngekeknya makin panjang maka harganya makin mahal. Seiring banyaknya lomba, maka lovebird yang mampu ngekek di atas 15 detik harga minimal Rp 1 juta, bahkan bisa jauh lebih mahal lagi.

Keunikan lovebird dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang, namun secara umum terbagi dalam dua kelas yakni suara dan warna. Dari segi suara, bagian yang paling digemari karena durasi kekekan yang panjang dan nyaring. Adapun dari segi warna, burung ini warnanya bermacam-macam seperti dominan hijau, biru, kuning, putih, pastel, campuran, blorok, dan berbagai warna langka. Warna varian baru dan unik harganya paling mahal.

(Baca: Pecinta Love Bird Desak Pemerintah Hentikan Burung Impor)

Agus, salah satu peternak lovebird kelas lomba di kawasan Kemayoran mengatakan pecinta love bird terbagi menjadi dua kelompok. “Untuk kelompok penggemar suara kekekan bernaung di Indonesian Lovebird Fellowship (ILF), sedangkan pecinta warna, bergabung di Klub Lovebird Indonesia (KLI). Tapi untuk lomba lebih ramai di kelas suara karena lovebird warna cantik harganya selangit,” ujar yang punya ternakan sekitar 50 pasang.

Sebenarnya pemakan biji-bijian ini merupakan salah satu jenis burung yang cerdas. Dia bisa dilatih untuk jinak maupun melakukan berbagai keterampilan. “Namun peminatnya tidak terlalu banyak,” papar Agus yang sudah memproduksi 500-an ekor dengan harga jual mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta/ekor. Namun di pasar burung banyak juga menjual dengan harga termurah mulai dari Rp 300 ribu sampai jutaan rupiah.

Selama tujuh tahun menekuni budidaya lovebird, Agus mengaku sangat beruntung. “Tiap bulan dapat penghasilan rutin minimal Rp 10 juta,” ungkap Agus yang menernakkan lovebird dengan sistem koloni menggunakan kandang besar ukuran 4 x 4 meter.

Menurutnya lovebird merupakan burung jinak dan tahan banting terhadap penyakit. Jadi, dia sangat kaget dengan adanya berita pemusnahan 300-an ekor di Jaktim lantaran diduga terindikasi virus flu burung. (joko/b)