Friday, 16 November 2018

Buntut Terkena Virus H5NI

Pecinta Love Bird Desak Pemerintah Hentikan Burung Impor

Kamis, 22 Februari 2018 — 16:40 WIB
Edi Edward, event organizer yang rutin menggelar kontes burung love bird.  (joko)

Edi Edward, event organizer yang rutin menggelar kontes burung love bird. (joko)

JAKARTA – Sejumlah komunitas pecinta burung love bird resah dengan adanya pemusnahan ratusan ekor paruh bengkok di Jakarta Timur kemarin. Mereka meyakini burung-burung yang dibakar karena diduga terkena virus H5NI merupakan produk import dari sejumlah negara.

“Teman-teman sesama pecinta love bird banyak yang berkumpul membahas berita pemusnahan 300-an ekor love bird,” ujar event organizer lomba burung berkicau Edi Edward di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (22/2).

Menurut mereka burung tersebut berasal dari sejumlah negara yang didatangkan oleh importir lewat pintu belakang. “Banyak teman yang memberi masukan bahwa love bird import dari Taiwan maupun Afrika masuk ke Indonesia di luar prosedur, tanpa divaksin ataupun masuk karantina, sehingga rawan penyakit,” kata Edi yang rutin menggelar lomba love bird.

Di wilayah Jakarta Timur banyak terdapat importir burung yang mendatangkan burung dari mancanegara lalu didistribusikan di Indonesia, termasuk DKI Jakarta.

“Menurut penilaian teman-teman, love bird import itu jauh lebih ringkih dibanding produk lokal yang relatif sangat aman,” kata Edi yang mengaku baru pertama mengetahui lewat berita adanya love bird dimusnahkan lantaran diduga terindikasi penyakit berbahaya.

Menurutnya, sejumlah komunitas pecinta love bird meskipun dilanda resah isu flu burung, namun mendukung Pemprov DKI Jakarta cepat tanggap memusnahkan ratusan burung untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.

(Baca: 320 Ekor Burung Lovebird Dimusnahkan)

“Kami juga mendesak pemerintah pusat melalui Bea dan Cukai untuk menghentikan sementara import burung dari beberapa negara, terutama jenis love bird,” ujar Edi yang juga ketua Garuda 26 Team yang merupakan wadah bagi pecinta burung kicau. Klub yang dipimpinnya rutin menggelar latihan prestasi atau lomba sebanyak empat kali dalam seminggu di lapangan yang dikelolanya di Jl Raya Garuda, Kemayoran.

Salah satu pencinta love bird, Suryanto menambahkan peternakan love bird di Indonesia sudah sangat mandiri dan dapat mencukupi kebutuhan penggemar di Tanah Air. “Jadi, pemerintah tidak perlu lagi memberikan izin untuk import love bird. Masyarakat harus dibiasakan dengan produk lokal yang mana kualitasnya tidak kalah dari import dan kondisi kesehatan lebih terjamin,” ujar peternak burung di Sunter, Tanjung Priok. (joko)