Friday, 16 November 2018

Punya Suami Pencemburu Lebih Baik Bercerai Saja

Jumat, 23 Februari 2018 — 5:44 WIB
cemburu

BERANGKAT dan pulang kerja Murni, 35, selalu diantar suami. Sayang betul Windo, 40, sebagai suami. Ternyata latar belakangnya, pencemburu. Capek selalu diproteksi suami, akhirnya Murni memilih bercerai saja. Sebetulnya kasihan juga sama anak-anak, tapi apa boleh buat. Masak setiap hari dicurigai.

Suami cap apapun pasti menyayangi istrinya. Tapi itu bukan berarti dikontrol setiap waktu, tanpa bisa bergerak. Sebab istri kan juga manusia biasa, yang ingin bersosialisasi dengan alam sekitarnya, tak harus selalu mengikuti arahan suami. Kecauli suami itu kawin sama robot, asal sudah diprogram bisa mengikuti segala kemauannya. Tapi mana ada sih lelaki mau kawin sama robot? Malam hari lalu mau ngapain saja?

Murni warga Ketintang Surabaya, awalnya sangat berbahagia bersuamikan Windo. Dia selalu siap mengantar jemput istrinya yang bekerja di restoran. Memangnya Windo sendiri tak kerja? Ya kerja juga, tapi dia bisa mencuri-curi waktu untuk bisa antar jemput.Kebetulan tempat kerjanya memang searah dengan istrinya.

Tapi itu semua ternyata bukan berlatar belakang sayang istri, melainkan efek daripada rasa cemburu yang meletup-letup. Maklum, Windo selalu dibayangi kecemasan, bila Murni sampai terpikat pada lelaki lain. Sedangkan bagi Windo, susah cari istri yang cantik dan penyabar seperti istrinya itu.

Sebagai perempuan cantik, sebetulnya wajar-wajar saja lelaki banyak yang ingin menikmati wajahnya, menatap sedikit berlama-lama pada Murni. Tapi Windo tak suka yang demikian itu. Jika ada lelaki sampai melotot lihat istrinya macam kucing lihat ikan asin, justru di rumah istrinya yang diomeli. “Habisnya kamu genit dan ganjen sih.” Kata Windo.

Paling kesal, setiap tiba di rumah seluruh tubuh Murni disweping, diperiksa takutnya ada cupang lelaki lain. Benar-benar istri dianggap seonggok barang. Jika Murni protes malah jadi ribut, sampai didengar tetangga. “Capek saya, mending cerai saja.” Ancam Murni.

Hal itu benar-benar dilakukan, gugatan didaftarkan ke Pengadilan Agama Surabaya. Rupanya Windo takut juga, sehingga dia merengek-rengek dan memohon agar gugatan ditarik kembali. “Apa kamu tak kasihan sama anak-anak kita?” rengek Windo.

Kasihan juga Murni pada akhirnya. Gugatan cerai pun dibatalkan. Tapi lain hari kembali penyakit lama Windo kambuh. Saking pusingnya Murni lalu curhat pada seorang lelaki di kantornya, bagaimana menyembuhkan penyakit cemburuan itu.

Nasihat teman ternyata, tak ada opsi lain kecuali bercerai. Sekali dimaafkan kumat lagi, kumat lagi. Itu takkan menyelesaikan masalah. “Hidup manusia tidak lama, kita akan kehabisan waktu jika terus mengurusi hal-hal semacam itu. Salam super…”, kata motivator amatiran itu lagaknnya seperti Mario Teguh.

Nasihat itu betul-betul dilaksanakan, dan kembali Murni mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Suami menangis merengek-rengek, tapi jawab Murni pendek saja: tak perlu sedu sedan itu!

Jadi penyair Chairil Anwar dong! (JPNN/Gunarso TS)