Friday, 22 June 2018

Kebun Buah Condet Budidayakan Salak, Duku dan Gandaria yang Mulai Langka

Sabtu, 24 Februari 2018 — 13:35 WIB
Kebun buah yang dikelola Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta di Condet, Jakarta Timur.(Cw2)

Kebun buah yang dikelola Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta di Condet, Jakarta Timur.(Cw2)

JAKARTA – Salak, duku, gandaria, bahkan pucung, merupakan pohon-pohon yang sudang mulai langka ditemui. Namun di kebun buah yang dinaungi oleh Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta, semua pohon ini dibudidayakan.

Kebun buah seluas 3,5 hektar ini dapat ditemui di Jalan Kayu Manis, Condet, Jakarta Timur.

Kebun buah milik Pemda DKI tersebut ditanami dengan berbagai jenis pohon buah-buahan. Namun yang paling mendominasi adalah salak Condet.

Berdasarkan pantauan poskotanews.com, begitu menelusuri kebun tersebut, kanan kiri pada jalan setapak terdapat pohon salak. Namun sayang, pohon salak ini terlihat kotor dan tertutup lumpur.

Yusuf, pekerja harian lepas (PHL) yang mengurus kebun tersebut mengatakan, kebun ini baru saja mengalami musibah. Yakni diterjang banjir pada akhir Januari lalu.

“Iya ini kena banjir kemarin, yang sebelum imlek. Pada kerendem pohonnya,” ujar Yusuf, pada Sabtu (24/2/2018).

Ia menambahkan, hampir seluruh kebun terkena banjir. Hanya kebun bagian atas saja yang tidak terendam. Hal ini menyebabkan pohon buah yang ditanamnya gagal panen, terutama pada pohon salak karena buahnya berada di bagian bawah pohon.

“Ya rugi, karena pohon kerendam, kembang-kembangnya jadi pada layu kan. Jadi kita harus proses dari awal lagi,” jelas Yusuf.

Salak yang telah berbuah terlihat agak kotor karena terkena banjir. Bahkan menurut keterangan Awi pekerja lainnya, pohon-pohon ini terendam hampir 3 hari.

“Kalau pohon sih ga (rusak), cuma buahnya kan kerendem hampir 3 hari. Kita jadi mulai dari nol lagi,” terang Awi.

Lebih lanjut ia mengatakan, upaya pertama yang dilakukan untuk menyelamatkan pohon-pohon yang ada di kebun ini, dengan mengeruk lumpur yang menimbun tanah.

“Ya kita harus bersihin lumpurnya dulu. Karena lumpur kan sifanya panas. Bisa bikin pohon busuk,” pungkasnya.

Menurutnya, dibutuhkan waktu cukup lama untuk pemulihan pohon-pohon yang terendam banjir tersebut. Terlebih lahan yang sangat luas. “Ya butuh waktu cukup lama lah, 4 sampai 5 bulan,” kata Awi.

Ia pun menunjukkan buah-buah hasil panen dari kebun tersebut, yaitu salak dan duku yang asli condet.
“Ini salak Condet, cobain. Di sini ada sekitar 9 varian rasa, kalau udah coba, pasti tahu rasanya beda-beda,” jelas pria 55 tahun ini.

Dari tiga buah salak yang  dicicipi  poskotanews.com, memang terasa perbedaan dari buah ini. Ada yang rasanya sepat saja, manis sepat, dan bahkan terasa agak hambar. Tapi khasnya, ya rasa sepat tersebut. (Cw2/tri)