Wednesday, 17 October 2018

Neraka Kok Dicoba

Sabtu, 24 Februari 2018 — 6:59 WIB
kasiha

Oleh S Saiful Rahim

BARU kali ini terjadi. Dul Karung masuk ke warung kopi Mas Wargo tanpa mencomot singkong goreng. Segera setelah masuk sambil memberi salam, Dul Karung langsung duduk dan bengong seperti sapi ompong.

“Ei kau ini kenapa Dul? Kok seperti remaja yang kehilangan pacar. Padahal sepanjang umurmu kau tak pernah punya pacar. Bukan karena cewek yang akan kau pacari belum dilahirkan, tapi memang tidak pernah akan dilahirkan,” kata orang yang duduk di sebelahnya, yang semula bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Aku kasihan pada Umi Elvy. Anak-anaknya kok jadi begitu,” jawab Dul Karung dengan lirih, tetapi cukup mengejutkan beberapa orang yang pendengar.

“Betul itu Dul. Aku juga beberapa kali istighfar ketika membaca berita tersebut,” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Tempat duduk semata wayang bagi para pelanggan warung itu.

“Maksud kalian Umi Elvy itu Elvy Sukaesih?” tanya Mas Wargo yang biasanya tidak suka turut campur obrolan para pelanggannya.

“Memang kalian ini kenal Elvy?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Aku merasa begitu, meskipun barangkali dia sudah lupa padaku,” jawab orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, membuat orang-orang tertegun. Entah kaget. Entah tidak percaya.

“Kira-kira pertengahan atau di ujung tahun 1950-an, ketika aku masih tinggal bersama orangtua di Karet, ada tetangga kami yang mendirikan dan memimpin orkes. Namanya Orkes Melayu “Kenangan Masa.” Para penyanyi lagu-lagu Melayu modern yang sekarang disebut “dangdut” banyak yang kadangkala bergabung. Ada Ellya Kadam yang ketika itu masih bernama Ellya Agus. Ada Husin Bawafi, pencipta lagu “Seroja” yang top, A Harris, pencipta lagu “Kudaku Lari” yang kemudian membintangi banyak film, dan Elvy Sukaesih yang masih anak-anak. Setiap hari hujan mereka tidak bisa ke rumah M Ali Gani, sang pemimpin “Kenangan Masa.”
Karena jalanan banjir. Maka para penyanyi tersebut pun seringkali berteduh di rumah orangtua kami. Di situlah aku mengenal mereka. Termasuk Elvy yang tentu saja belum disebut Umi,” cerita orang itu dengan bangga.

“Tidak peduli siapa pun orangnya, itulah risiko bila berani main-main dengan narkoba. Mereka yang pernah belajar mengaji, tahu di dalam Al-Quran “nar” itu artinya neraka. Jadi “narkoba” itu bisa kita artikan “neraka kok dicoba,” kata orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Jadi, sekali mencoba ya hangus?” sambar Dul Karung sambil melangkah pergi. (syahsr@gmail.com)