Monday, 10 December 2018

ETIKA CALON PEMIMPIN

Senin, 26 Februari 2018 — 6:00 WIB

Oleh Harmoko

BANYAK orang mengingatkan, pilihlah pemimpin yang tidak ambisius. Lihatlah menjelang pilkada serentak ini, ada dua sikap yang diperlihatkan oleh beberapa tokoh: dirinya siap jadi gubernur maupun bupati, ada lagi yang mengatakan tidak mau.

Mereka yang mengemis kepada rakyat untuk dipilih jadi pemimpin maupun mereka yang tidak mau, keduanya tidak layak dipilih. Mengapa? Dalam adat ketimuran, keduanya telah menyalahi standar etika seorang pemimpin.

Keinginan seseorang untuk menjadi apa pun, dalam batas tertentu bisa kita pahami sebagai sebuah ambisi yang bersifat positif. Tetapi, ketika keinginan itu disampaikan secara ngotot dengan tanpa mengukur kapasitasnya, berubahlah sifatnya menjadi ambisi negatif.

Kata orang bijak, bolehlah berambisi, tetapi janganlah ambisius. Tidak ada yang salah dalam hal ambisi. Seperti kata Napolein Hill dalam bukunya, Think and Grow Rich, seseorang yang kurang berambisi akan mengalami kegagalan. Tetapi, ketika ambisi sudah berubah menjadi ambisius, seseorang biasanya tidak mempertimbangkan lingkungan, nilai-nilai moral dan norma-norma di sekitar, etika, serta kondisi diri sendiri.

Sikap seperti itu jelas tidak sesuai dengan standar etika bagi seseorang yang hendak menjadi pemimpin. Sesungguhnya, memiliki sifat ambisi itu bagus selama masih bisa dikendalikan dengan baik. Namun, jika tidak bisa dikendalikan maka akan menimbulkan sikap ambisius.

Ambisius itu kata sifat dari ambisi. Yang namanya kata sifat ada positif dan negatifnya. Ambisi yang positif dimiliki oleh orang supaya bisa berprestasi dengan baik dan menghasilkan karya terbaik, sementara kalau yang negatif itu sebuah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga dia akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan.

Indonesia sekarang membutuhkan memimpin yang punya ambisi namun tidak ambisius, pemimpin yang tahu hendak dibawa ke mana bangsa ini, pemimpin yang bisa bekerja sama dengan segenap komponen bangsa. Pemimpin macam begini tidak bisa kita harapkan dari seseorang yang ambisius, yang dengan berbagai cara menarik simpati publik, termasuk menjatuhkan lawan politiknya.

Itu yang pertama. Yang kedua, tentang seseorang yang malu-malu dicalonkan, apalagi mencalonkan diri. Bagaimana mau menjadi pemimpin kalau tidak percaya diri? Kita ini sedang mencari pemimpin yang terpanggil segenap jiwa dan raganya untuk mengurus rakyat dan negeri ini. Bagaimana mau terpanggil, kalau dicalonkan saja malu-malu dan bahkan tidak mau?

Sekali lagi, Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang punya ambisi, bukan ambisius, juga bukan pemimpin yang tidak percaya diri. Siapa? Silakan cermati! ( * )