Wednesday, 15 August 2018

Cawagub Syaikhu Blusukan ke Lumbung Suara Golkar

Kamis, 1 Maret 2018 — 9:00 WIB
Cawagub Jabar Achmad Syaikhu saat blusukan ke Pasar Rebo Purwakarta.(dadan)

Cawagub Jabar Achmad Syaikhu saat blusukan ke Pasar Rebo Purwakarta.(dadan)

PURWAKARTA – Cawagub Jabar Achmad Syaikhu menargetkan kemenangan 40 persen suara di Pilgub Jabar. Optimisme kemenangan ia bawa pula ke lumbung suara Cawagub Jabar diusung Golkar, Kab Purwakarta.

“Saya optimis mendulang 40 persen suara di Pilgub Jabar termasuk di Purwakarta ini,” ujar Syaikhu, saat blusukan ke Pasar Rebo Purwakarta.

Di kompleks pasar tradisional tertua di Purwakarta, Syaikhu berkeliling dan menyalami para pedagang dan pengayuh becak. Langkahnya terhenti didepan sebuah toko mas. Disana Syaikhu didapuk Ketua Iwapa H Zainal Mutaqien menyampaikan orasi politiknya.

“Saya sudah menemui beberapa elemen masyarakat dan Alhamdulillah mereka mensupport pasangan Asyik. Apalagi sekarang bekerjasama dengan Pasangan Zalu, saya makin optimis mendulang 40 persen suara,” ujarnya.

Wawali Kota Bekasi itu mengajak pedagang mempertahankan keberadaan pasar tradisional dari serbuan kapital dengan pasar modernnya. “Di Bekasi pedagang tradisional mendorong pemerintah melakukan moratorium atas menjamur pasar modern,” ungkap dia.

Syaikhu menjanjikan membuat kebijakan anggaran merevitalisasi seluruh pasar tradisional di Jabar bila pasangan Sudrajat-Syaikhu terpilih menjadi Gubernur dan Wagub Jabar. “Supaya kekhasannya ada, pasar tradisional di Jabar harus di brand,” katanya.

Ditempat yang sama Cabup Purwakarta jalur perseorangan Zainal Arifin mengatakan pasar tradisional merupakan aset daerah yang harus dimuliakan. Karena dinegara maju pasar tradisional merupakan sumber ekonomi berbasis rakyat. “Pasar tradisional ini dipertahankan,” ujarnya.

Zainal sependapat dengan Syaikhu diperlukan keberpihakan anggaran pemerintah memperkokoh keberadaan pasar tradisional. “Salah satunya merivitalisasi pasar,” katanya.

Zainal menyebutkan model pasar modern ini merupakan ekonomi kapitalis yang sudah barang tentu persaingannya tidak berimbang dengan tradisional. “Kecuali ada kebersamaan pemerintah dan masyarakat baru bisa mengalahkan pasar modern,”katanya.

(dadan/sir)