Sunday, 15 September 2019

Korban Longsor Terowongan Bandara Terima Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan Slipi

Jumat, 2 Maret 2018 — 16:16 WIB
Ayah dan ibu korban longsor terowongan bandara Soekarno-Hatta.(Ist)

Ayah dan ibu korban longsor terowongan bandara Soekarno-Hatta.(Ist)

JAKARTA – Suasana duka masih menyelimuti di kediaman keluarga Almh. Dianti Dyah Ayu Cahyani Putri, yang menjadi korban longsor diterowongan Bandara Soekarno-Hatta pada 5 Februari 2018.

Hal tersebut terlihat saat keluarga almarhumah yang diwakili ayahnya Gatot Cahyono Susanto menerima santunan kematian akibat kecelakaan kerja senilai Rp276,6 juta dari  Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Jakarta Slipi, Tidar Yanto Harun yang didampingi Ibu Tuti selaku Manager Industrial Relation dan Bapak Cahyo Selaku Human Resources Bussines Partner PT. GMF Aero Asia, Jumat (2/3/2018).

Menurut Tidar, santuan tersebut dihitung berdasarkan dari santunan Jaminan Kematian sebesar Rp.268,8 juta, biaya pemakaman Rp.3 juta, santunan berkala (sekaligus) Rp.4,8 juta.

“Dasar perhitungan diambil dari dasar upah pekerja yang terlapor sebesar Rp.5,6 juta per bulan Januari 2018, sedangkan untuk santunan Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun akan di serahkan berikutnya setelah dilakukan perhitungan saldo ditambah hasil bunga pengembangannya,” jelas Tidar.

Tidar mengatakan bahwa santunan ini memang tidak sebanding dengan nyawa almarhumah, tetapi santunan ini diharapkan bermanfaat bagi ahli waris untuk melanjutkan kehidupannya.

Almarhumah Putri bersama rekannya Mukhmainna Syamsudin tertimpa longsor di kawasan Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (5/2) pukul 17.00 WIB.

Putri adalah karyawan PT GMF Aero Asia, bekerja sebagai analis finansial. Dia berhasil dievakuasi dari longsor dan tembok runtuh yang menghimpit mobilnya, pukul 02.50 WIB dini hari.

Usai dievakuasi, Putri dirujuk ke Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Kondisinya saat itu lemah dan pucat, tensi darah 90/70. Diagnosanya, Putri mengalami shock hipovolemik, fraktur servikal, fraktur femur kanan dan kiri.

Tindakan medis diberikan resusitasi cairan, dipasang collar neck, dan spalk. Dia selanjutnya dipindahkan ke RS Mayapada.  Pukul 06.00 WIB, Putri sampai di IGD RS Mayapada. Kondisinya drop, keadaan memburuk. Dilakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) selama kurang lebih 30 menit, hingga pada  pukul 06.45  (6/2/2018) pasien dinyatakan meninggal dunia.

Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia merupakan anak perusahaan PT Garuda Indonesia, salah satu perusahaan penerbangan milik pemerintah Republik Indonesia yang didirikan untuk menjadi salah satu aircraft maintenance solutions provider terbaik di dunia, yang memiliki reputasi dalam quality, reliability, on-time delivery and affordability.

GMF Aero Asia telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan sejak tahun 2003 dengan jumlah karyawan sebanyak 5.015 dan telah mengikuti 4 program yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP).(Rilis/tri)