Sunday, 23 September 2018

Tegas Tegakkan Aturan Lalin

Jumat, 2 Maret 2018 — 5:34 WIB

MELANGGAR aturan lalu lintas, pemandangan yang ‘lumrah’ di Ibukota. Menerobos traffic light, melawan arah, masuk ke jalur bus Trasjakarta, setiap hari menjadi pemandangan rutin. Apalagi pengendara motor tak mengenakan helm, atau melawan arus, di setiap sudut jalan bisa dilihat.
Sepertinya bagi sebagian pengendara terutama sepeda motor, hukum dianggap mandul.

Mereka bahkan kompak melakukan pelanggaran. Ketika melihat polantas di ujung jalan, mereka kompak saling mengingatkan kepada sesama pelanggar lalu lintas. Bahkan rela saling bantu menggotong motor keluar dari jalur busway bila di ujung jalan ada polisi.

Denda bagi penerobos jalur khusus Bus Transjakarta bukannya kecil, yaitu Rp500 ribu. Tapi pelanggar tidak takut merogoh kocek. Terbukti, setiap hari jalus busway ‘dirampas’ oleh motor, mobil pribadi maupun angkutan umum. Artinya, peraturan Lalin (Lalin) dianggap hanya aturan belaka.

Kini Polda Metro Jaya akan menerapkan tilang bagi pengemudi baik motor maupun mobil yang ketahuan merokok sambil berkendara. Denda yang dikenakan pun cukup besar, Rp750 ribu atau kurungan maksimal tiga bulan. Aturan hukumnya, UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 283.

Merokok sambil berkendara memang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Pertanyaan yang mengemuka, efektifkan peraturan ini diterapkan? Pelanggaran yang lebih berbahaya saja, seperti melawan arah yang jelas-jelas setiap hari terjadi, aparat seperti kewalahan.

Perilaku melanggar Lalin, tak terlepas dari sikap mental pengendara. Apapun bentuk pelanggaran, apakah melawan arah, mengemudi sambil menggunakan telepon seluler, merokok atau lainnya, akan sulit diatasi selama mental berkendara masih rendah. Meski sosialisasi kerap dilakukan, nyatanya angka pelaggaran tetap saja tinggi.

Di negeri ini, menumbuhkan disiplin masih harus dipaksa. Tegas menegakkan hukum, adalah cara memaksa pengendara supaya patuh. Kalau perlu tindakan radikal dilakukan semisal mencabut SIM pengemudi yang melanggar Lalin supaya ada efek jera. Selain itu, kehadiran aparat penegak hukum baik polisi maupun Dishub di titik-titik kemacetan serta lokasi rawan pelanggaran, sangat dibutuhkan supaya pengendara berfikir ulang bila akan melanggar Lalin.**