Sunday, 16 December 2018

Mengapa Kita Bisa Kekurangan Beras?

Sabtu, 3 Maret 2018 — 5:16 WIB
astaga

Oleh S. Saiful Rahim

SEPERTI biasa, Dul Karung masuk ke warung kopi Mas Wargo sambil mengucapkan kata assalamu alaykum lebih dulu. Orang di sana pun menyambut antusias. Tetapi, ketika Dul Karung mengulurkan tangan meraih singkong goreng, orang di sebelahnya menampar punggung tangan Dul Karung, sehingga singkong yang sudah dipegang terjatuh.

“Astaghfirullah! Kenapa sih kau ini?” bentak Dul Karung sambil membelalakkan mata.

“Kau harus membiasakan memakan apa saja. Di depan kita ini ada pisang, ubi, talas, tahu, tempe, dan entah apa lagi yang aku tidak kenal. Mengapa kau tiap datang hanya mencomot singkong saja?” balas orang yang semula duduk di dekat pintu, lalu bergeser demi memberi tempat untuk Dul Karung duduk.

Mendengar celoteh panjang orang itu tiba-tiba Dul Karung tertawa. Lalu sambil mencaplok singkong goreng yang masih kebul-kebul dia berkata, “Kalian harus meniru kebiasaanku ini. Memakan makanan yang biasa dimakan turun menurun sejak zaman nenek moyangku masih hidup.”

“Kau ini ketinggalan zaman Dul,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang sambil mengunyah tempe goreng.

“Seandainya warung ini menjual hamburger, cake, spaghetti dan makanan modern zaman now lain, aku pasti tidak makan tempe. Meskipun aku ini orang Jawa yang sekampung dengan Mas Wargo, aku tidak mau ketinggalan zaman.

“Setidak-tidaknya dalam hal makan. Lihatlah penampilan dan gayaku. Pakaian, potongan rambut, gerak-gerik, semuanya gaya now. Gaya orang-orang yang biasa landing di coffee shop. Bukan gaya orang biasa nongkrong di warung kopi pinggir jalan yang listriknya saja nyantol. Sayangnya rezekiku rezeki kakilima,” sambung orang itu dengan intonasi yang semula tinggi, lalu menurun sehingga ketika dia menyebut rezeki kakilima nyaris tidak terdengar.

“Nah, kebiasaan meniru-niru itulah yang bikin kita repot. Kalau kita membiasakan diri mengukur baju dengan badan orang lain, tentu susah pasnya. Kalau gak cekak alias kekecilan, pasti gedombrongan alias kedegean,“ kata Dul Karung sambil menyeruput habis teh manis dari gelas.

“Maksudmu?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Sejak negeri kita merdeka, banyak saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita merasa tidak keren bila tidak makan nasi. Padahal makanan pokok warisan leluhur mereka bukan nasi. Ada yang terbiasa makan sagu, jagung, umbi-umbian, dan banyak lagi makanan pokok yang bukan beras.

“Sebenarnya tak ada masalah dengan makanan pokok warisan leluhur itu. Bahkan rata-rata bentuk tubuh mereka lebih kokoh.

“Mungkin karena ada rasa rendah diri tidak makan nasi, mereka alihkan bahan pokok makanan mereka ke beras. Sejak itulah kita mengalami krisis beras setiap tahun,” kata Dul Karung sambil ngeloyor meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )*