Sunday, 24 June 2018

Cap Go Meh Glodok

Senin, 5 Maret 2018 — 5:46 WIB

PERAYAAN kirab budaya dan Cap Go Meh bertajuk Festival Pecinan 2018, Minggu (4/3), di kawasan Glodok, Jakarta Barat, berlangsung meriah. Suguhan aneka kesenian mampu menghibur warga yang memadati sepanjang Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk rute kegiatan tersebut.

Menjaga berlangsungnya kirab budaya dan Cap Go Meh itu, tak kurang dari 700 personel Polres Metro Jakarta Barat dikerahkan. Demi kelancaran kegiatan, ruas Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk pada pukul 13.00 sampai dengan pukul 18.00 ditutup.

Kirab budaya dan Cap Go Meh hampir setiap tahun digelar di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk. Kemarin, tak kurang dari 103 patung dewa diarak menggunakan tandu.
Barongsai, Ondel-ondel Betawi, Reog Ponorogo, Sisingaan, Marching Band dan kesenian daerah lainnya, memeriahkan perayaan Cap Go Meh yang dihadiri sederet pejabat dan sejumlah menteri.

Berdasarkan sejarah, Cap Go Meh di Indonesia sudah ada sejak abad XIV. Cap Go Meh adalah rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Atau puncak perayaan pasca 15 hari Tahun Baru Imlek.

Di Jakarta perayaan Cap Go Meh tahun ini bukan hanya di Jakarta Barat saja, tetapi digelar wilayah kota lainnya seperti Jakarta Timur tepatnya di Jatinegara. Bahkan, di banyak daerah Indonesia rangkaian puncak perayaan Tahun Baru Imlek bernama Cap Go Meh juga dilakukan.

Banyak hal positif yang dipetik dari kirab budaya dan Cap Go Meh bertajuk Festival Pecinan 2018 itu. Selain mampu menghibur warga Jakarta, perayaan seperti itu juga bisa menyedot turis baik lokal maupun mancanegara yang ujungnya mendulang kas daerah Pemprov DKI Jakarta.

Bukan itu saja, adanya Festival Pecinan ini juga memberikan pesan kepada dunia bahwa keberagaman di Indonesia, termasuk Jakarta tumbuh dengan baik. Keberagaman yang terjaga apik di bumi berdasarkan Pancasila ini, tentu saja melambungkan citra Indonesia.

Indonesia lahir dari keberagaman. Perbedaan baik etnis, budaya, maupun bahasa adalah takdir yang disatukan dan menjadi kekuatan bangsa Indonesia. Keberagaman itu nyata dan tidak bisa ditolak, tapi perlu dirawat.

Melestarikan keberagaman di Indonesia, termasuk Jakarta dibutuhkan peran aktif bukan saja dari stakeholder (pemangku jabatan), tetapi juga tokoh lintas agama, tokoh masyarakat dan semua pihak. Berikan warga, pemahaman seputar keberagaman.

Yuk warga Jakarta, gelorakan terus keberagaman sehingga persatuan dan kesatuan bangsa semakin kokoh. Tunjukkan kepada dunia bahwa di sini keberagaman tumbuh damai. @*