Saturday, 20 July 2019

Suami Tak Tanggungjawab Biaya Cerai Ditomboki Bini

Selasa, 6 Maret 2018 — 6:33 WIB
cerai

JADI lelaki agaknya Sukandar, 35, hanya modal tit ….eh burung doang. Istri lama ditelantarkan di Surabaya, sementara dia kawin lagi di Jakarta. Giliran mengurus perceraian, justru calon bekas istri itu disuruh nomboki kekurangannya. Padahal Kandar ngurus surat cerai itu untuk bisa mengawini WIL-nya di Ibukota.

Banyak lelaki yang mental ayam jago. Dia hanya bisa mengawini saja, tapi soal biaya rumahtangga tak mau tanggungjawab. Istrinya yang disuruh kerja banting tulang, sedangkan suami hanya petantang-petentang saja, tiap malam “nyetrom”. Tapi anehnya, ada saja wanita yang mau diperkuda seperti itu, karena bangga akan tongkrongan dan “tangkringan” suaminya.

Ny. Murniati, 31, warga Dupakrukun, Surabaya, adalah satunya. Lima tahun lalu dia menikah dengan Sukandar hanya modal cinta belaka. Artinya, meski suami tak punya pekerjaan jelas, Murniati seneng-seneng saja. Sebab Sukandar memang ganteng, santun, dan pintar menata kata.

Karena Sukandar memang pengangguran, setelah punya istri ya tetap petentang-petenteng doang. Terpaksa anggaran belanja rumahtangga disponsori antar besan. Tapi sampai kapan harus jadi donatur? Makanya ibu mertua Sukandar suka menyindir, “Jadi mantu hanya modal tit ….eh burung doang!”

Untuk mengubah nasib akhirnya Sukandar didorong-dorong untuk cari kerja di Jakarta. Tapi selama di Ibukota, tak pernah pulang ke Surabaya. Dia hanya kirim duit sebulan Rp 500.000,- Jaman now sekarang ini, duit segitu dapat apa untuk hidup sebulan. Memang sih, kalau dibelikan kalender awet sekali, baru habis di akhir tahun.

Pernah Murniati menyusul ke Jakarta, tapi diberi alamat palsu. Walhasil di Jakarta jadi terlantar, karena alamat suami tak ditemukan. Setelah sekian lama, akhirnya baru terungkap, sebetulnya di Jakarta Sukandar sudah punya WIL, bahkan sudah punya anak. Maka untuk mengurus perkawinan resmi harus ada surat cerai dari istri di Surabaya.

Paling konyol, untuk biaya perceraian saja Sukandar tak mau memberi anggaran cukup. Dia hanya memberikan ala kadarnya, sedangkan sisanya dibebankan pada Murniati yang bakal diceraikannya.

Sebetulnya Murniati marah besar. Tapi apa daya, yang dimarahi tak di depan mata. Tapi jadi semakin jelas bahwa Sukandar memang lelaki miskin tanggungjawab, seperti ayam jago. Jika belum kena, dikejar-kejar sampai tempat sampah. Tapi setelah berhasil mengawini langsung pergi sambil kipu (mandi debu).

“Yoh, yoh, Gusti Allah ora sare.” Kata Murniati dalam hati. Segala kekurangan biaya perceraian itu ditombokinya. Tapi habis itu dia akan bebas menentukan nasib. Cari suami baru yang benar-benar tanggungjawab, bukan lelaki yang hanya modal tit….eh burung macam Sukandar.

Biar burung, asal perkutut Majapahit mahal harganya. (JPNN/Gunarso TS)