Thursday, 21 June 2018

BAITO-BAITO JUO

Kamis, 8 Maret 2018 — 4:48 WIB

Oleh H. Harmoko

GEGAP gempita persiapan pilkada serentak, pemilu dan pilpres, bisa ditebak, secara esensi akan berakhir dengan klenyem-klenyem, tak ada gairah, baito-baito juo. Rakyat hanya diajak hiruk pikuk menyambut para manggala, nayaka, dan wakil-wakilnya saat kampanye. Setelah itu mereka dilupakan.

Begitulah biasanya. Rakyat dilupakan, menjadi yatim piatu sekaligus anak tiri pemerintah dan parpol. Ada atau tidak ada pemimpin baru, mereka tetap sengsara. Masalahnya bukan pada pemimpin, melainkan pada sistem.

Dominasi parpol untuk mengatur negara ini begitu kuat, seolah merekalah sang pemilik negara. Sampai-sampai, presiden pun tak lebih sebagai petugas parpol.

Celakanya, sang presiden pun seolah ketakutan pada parpol. Mungkin karena panik, khawatir tidak akan mendapat dukungan dari parpol untuk maju lagi ke pilpres berikutnya, presiden buru-buru menempatkan orang-orang partai di kabinet maupun posisi strategis lainnya.

Kepanikan seperti iti juga pernah dirasakan olej Presiden Sukarno menjelang kejatuhannya. Ia mencoba meredam gelombang serangan dengan membuat Kabinet 100 Menteri (Kabinet Dwikora yang disempurnakan lagi, Maret 1966). Tetapi, meski begitu banyak menteri dijejalkan di kabinetnya, Bung Karno tak mampu meredam gelombang perontokan dirinya.

Sambil memperkuat basis dukungan dari parpol, upaya meningkatkan citra diri pun digencarkan. Di sisi lain, rakyat dibiarkan saling eker-ekeran tentang jago yang hendak diadu di gelanggang pertarungan. Pesta demokrasi rakyat? Tidak. Itu pesta demokrasi partai yang mengajak rakyat sebagai pasukan cheer leader.

Setelah pesta parpol berakhir, hiruk-pikuk yang memakan banyak energi, perhatian, dan waktu itu pun sangat mungkin bak pepatah Minang: baito-baito juo. Begitu-begitu juga. Rakyat yang diajak capek mendengar dan menonton pertengkaran politik setiap hari, setiap detik di media massa maupun medsos, kemudian dilupakan begitu saja.

Ya, pesta demokrasi terlalu banyak keberisikannya (noice) ketimbang voice (suara murni, artinya yang lebih bernas, beresensi tinggi). Kita sudah diajar untuk main silat lidah, membesar-besarkan masalah, di luar nalar sehat. Jadinya begini ini: tidak jelas. Baito-baito juo. ( * )