Saturday, 17 November 2018

6 Motif Batik Nusantara Hiasi Trotoar Sudirman-Thamrin

Jumat, 9 Maret 2018 — 1:40 WIB
Maket penataan jalur pedestrian di Jalan MH Thamrin-Sudirman.

Maket penataan jalur pedestrian di Jalan MH Thamrin-Sudirman.

JAKARTA – Pola batik nusantara akan menghiasi trotoar di sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman. Motif batik mulai dari Sumatera hingga Sulawesi akan tergambar pada sarana bagi pejalan kaki tersebut.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal mengatakan, trotoar itu nantinya akan terdiri dari dua bagian, yakni jalur fasilitas (utilitas box) dan jalur pejalan kaki.

“Di sekitar enam stasiun MRT, Pemprov DKI Jakarta bakal menghias trotoar dengan pola batik nusantara,” ujar Yusmada, Kamis, (8/3/2018).

Seperti di Stasiun Senayan akan dibuat dengan pola lantai batik Sumatera, Stasiun Istora dengan pola lantai batik Jawa, Stasiun Bendungan Hilir dengan pola lantai batik Kalimantan, Stasiun Setiabudi dengan pola lantai batik Bali NTT, dan Stasiun Bundaran HI dengan pola lantai Batik Sulawesi.

Yusmada menjelaskan, pembiayaan penataan trotoar ini berasal dari kompensasi pelampauan kelebihan lantai bangunan (KLB), PT Keppel Land Investama, dan PT Mitra Panca Persada.
Adapun pembagiannya, tutur Yusmada, PT MRT akan mengerjakan penataan trotoar di enam stasiun, masing-masingnya kurang lebih sepanjang 200 meter di setiap stasiun.

PT Keppel Land Investama akan mengerjakan trotoar segmen Patung Kuda hingga Kali Krukut, sedangkan PT Mitra Panca Persada mengerjakan penataan trotoar di segmen Kali Krukut sampai Patung Pemuda dan segmen Kartika Candra hingga Jakarta Convention Center.

Pemprov DKI Jakarta menugaskan PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama dan PT Wijaya Karya untuk mengerjakan proyek tersebut.

5 BULAN

Yusmada menegaskan, rentang waktu pengerjaan penataan jalan dan trotoar itu rampung selama lima bulan sebelum penyelenggaraan Asian Games. “Saya berharap Jakon dan Wika bekerja keras dalam lima bulan ini,” katanya.

Desain penataan trotoar ini merupakan perubahan dari rancangan sebelumnya, sesuai dengan keinginan Gubernur Anies Baswedan.

Anies mengatakan, desain itu dibuat untuk memastikan kemudahan pejalan kaki, serta menjadi ruang ekspresi bagi warga.

“Ketika ini dirancang, kami ingin memastikan tempat ini berfungsi untuk pejalan kaki di sekitar sana. Kedua, harus menjadi ruang ekspresi budaya, baik rancangannya maupun fasilitasnya. Ketiga, harus menjadi sarana edukasi,” kata Anies. (guruh/st)