Sunday, 24 June 2018

Ganjil Genap di Tol Cikampek, Melanggar, Didenda Rp500.000

Jumat, 9 Maret 2018 — 2:20 WIB
Petugas membagikan selebaran sosialisasi penerapan ganjil genap di pintu tol (chotim)

Petugas membagikan selebaran sosialisasi penerapan ganjil genap di pintu tol (chotim)

JAKARTA – Tol Cikampek-Jakarta di Gerbang Tol Bekasi Barat dan Bekasi Timur, mulai Senin (12/3) diberlakukan sistem ganjil genap. Pelanggar diancam denda maksimal Rp500 ribu atau kurungan dua bulan.

Angkutan barang tiga sumbu atau lebih dilarang masuk mulai pukul 06.00 sampai 09.00. Peraturan itu merujuk Pasal 287 ayat 1 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. “Aturannya sudah turun dari Kementerian Perhubungan. Nanti sanksinya tilang, melanggar rambu,” kata Kakorlantas Polri Irjen Royke Lumowa, Kamis (8/3).

Rambu lalu lintas dan marka jalan akan dipasang agar pengemudi mengetahui. “Petugas akan disediakan di depan gerbang tol memastikan kendaraan pribadi yang masuk sesuai dengan kebijakan ganjil genap,” katanya.

Petugas juga mengarahkan angkutan sumbu tiga atau lebih yang masuk dan keluar pukul 06.00 sampai 09.00. “Kalau sudah terlanjur masuk nanti ada U Turn yang kami buat. Sebanyak 200 personel kami siapkan untuk mengawal kebijakan ini,” kata Royke.

8000 KENDARAAN

Sementara itu General Manager Cabang Jakarta-Cikampek PT Jasa Marga Raddy R Lukman mengatakan, pembatasan kendaraan ini akan berdampak pada 8.000 kendaraan. “Khususnya pada pk. 06.00-09.00,” kata Raddy.

Jumlah tersebut diambil dari angka rata-rata kendaraan yang biasa melintas di pintu Tol Bekasi Barat I dan II, dan Bekasi Timur. “Sebanyak 8.000 (kendaraan) ini yang akan beralih menggunakan moda transportasi lain seperti bus Transjabodetabek premium, atau menggunakan rute pintu tol lain,” kata dia.

Dirut PT Jasa Marga (Persero) Tbk Desi Arryani menilai penerapan kebijakan ini akan mengurangi tigkat kepadatan sebesar 25 persen. “8.000 kendaraan yang terdampak paling tidak mengurangi 25 persen volume kendaraan di pintu itu, ini sangat membantu,” kata Desi.

Dia menambahkan, efek penerapan kebijakan ini, tidak akan berimbas pada laba yang diraih Jasa Marga. Menurut dia, Jasa Marga justru akan untung. “Kami tidak rugi, justru sebaliknya, karena di dalam tol macet, artinya tidak ada yang masuk. Kalau lancar maka kendaraan akan banyak yang masuk kan,” beber Desi. (*/iw/ird)