Wednesday, 26 September 2018

Nama Ustad Rois Kembali Disebut Dalam Sidang Bom Jalan Thamrin

Jumat, 9 Maret 2018 — 14:40 WIB
Zainal Anshori.(cw3)

Zainal Anshori.(cw3)

JAKARTA – Nama Ustad Rois alias Iwan Darmawan kembali disebut saksi dalam sidang kasus terorisme dengan terdakwa Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (9/3/2018).

Saksi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan ini adalah Zainal Anshori. Zainal pernah di vonis 7 tahun penjara karena terlibat aksi penyerangan pos polisi di Tuban.

Pada tahun 2014, Zainal Anshori mengaku membesuk Aman Abdurrahman sebanyak 2-3 kali. Dirinya mengaku disuruh oleh Abu Musa untuk membesuk Oman di dalam Lapas Nusakambangan. Abu Musa sendiri ditangkap karena menjadi pemimpin militer di daerah NAD (Nanggroe Aceh Darussalam).

Pada tahun 2015, Zainal Anshori mengaku datang lagi ke Lapas Nusakambangan untuk membesuk. Kali ini dirinya bukan membesuk Aman melainkan membesuk Ustad Rois.

Dirinya mengaku jika dihubungi oleh Ustad Rois melalui pesan telegram via handphone. Sebelumnya, Zainal tidak mengenal siapa itu Ustad Rois. Dirinya langsung merasa yakin bahwa yang memintanya datang adalah Ustad Rois langsung.

“Saya baru kenal tapi saat itu saya yakin kalau itu Rois,” tutur Zainal.

Saat berada di Lapas Nusakambangan, Zainal mengaku disuruh mencari dua orang dan disuruh membeli senjata di Filipina.

Saat itu, dirinya diberikan uang sebesar 20000 US Dolar oleh Ustad Rois untuk akomodasi ke Filipina. Yang menurutnya jika dirupiahkan lebih dari 50 juta rupiah.

Namun misi tersebut gagal. Zainal hanya berucap maaf pada Ustad Rois.

“Ya saya minta maaf saja,” kata Zainal santai.

Sebelumnya pada Selasa lalu (6/3/2018), Abu Gar juga menyebutkan nama Ustad Rois. Dirinya diberikan amanah untuk menjadi koordinator bom Thamrin. Saat itu dirinya mengaku sudah disiapkan orang dari Ustad Rois, senjata dan uang yang Abu Gar tidak tahu itu dari mana. Abu Gar hanya mengaku bahwa dirinya mengkoordinasikan salah satu pelaku bernama Muhammad Ali.

Muhammad Ali sendiri tewas dalam bom Thamrin Januari 2016 lalu.

(cw3/sir)