Friday, 23 August 2019

Istri Kabur Bersama PIL Malah Diberi Transport

Sabtu, 10 Maret 2018 — 7:25 WIB
maukab

CINTA itu mau berkorban. Karena itulah ketika Ririn, 22 istrinya pilih kabur bersama PIL-nya, Jono, 30, tidak marah, bahkan memberi uang transport untuk mereka minggat. Tapi Ririn memang tak mencintai Jono sedari awal. Maka mesekipun suaminya adalah lelaki budiman, tetap saja dia memilih bercerai demi kekasih baru.

Bila cinta sudah melekat, istri khianat tetap saja dimaklumi tanpa syarat. Begitulah dayatnya cinta. Gara-gara cinta seorang bisa jadi pemaaf, memaklumi segela kelebihan dan kekurangan orang yang dicintai, bahkan mau berkorban. Saking kepepetnya, asal dia bahagia sudah ikut merasa bahagia, meski tak ikut pula menikmati surge dunia.

Begitulah sikap Jono, warga Surabaya. Dua tahun lalu dia bisa menikahi Ririn karena melalui perjuangan yang begitu ulet. Meski sicewek tak mau, terus dikejar dan dikejar. Maklum Jono memang bukan lelaki ideal. Posturnya pendek, wajah tidak ganteng, tapi pinter cari duit. Gara-gara factor terakhir itu, akhirnya Ririn bertekuk lutut dan berbuka paha.

Ririn memang cantik di kelasnya. Saat gadisnya dulu banyak sekali yang menjadi kontestan perebutan cinta. Termasuk si Jono ini. Dari semua kontestan, dia paling jelek. Tapi orangnya penyabar. Meski pernah ditolak mentah-mentah, tetap saja menempel pada Ririn. Tak ditemui sicewek, ya ngobrol sama orangtuanya.

Lama-lama Ririn kasihan, dia mau dinikahi Jono. Dia berharap ada keajaiban seperti dongeng Joko Kendil. Dulu jelek sekali, tapi suatu waktu menjelma jadi kestatria muda nan tampan, dan kemudian menjadi raja sebuah negara.

Ternyata dugaan itu meleset. Sampai punya anak satu, Jono tak juga berubah wajud. Tetap saja pendek dan jelek. Karenanya dia sama sekali tak pernah tiumbuh rasa cintanya. Jika suami menuntut jatah, Ririn melayani sambil merem, sambil membayangkan Rafi Ahmad.

Jono memang sayang sekali pada istrinya, minta apa saja selalu dipenuhi. Bahkan tugas sehari-hari banyak diambil alih Jono. Dia memang punya alasan untuk itu. Istri tak boleh capek, dengan maksud malam harinya nanti bisa memberi pelayanan purna ranjang. Bagi Jono, yang penting Ririn cukup mamah karo mlumah.

Beberapa minggu lalu Ririn kecantol perjaka tampan. Postur tubuhnya juga ideal. Karenanya tanpa pikir panjang mau saja dipacari Warto, 28. Bahkan diajak jalan ke mana-mana, termasuk “eksekusi” sebagai kelanjutan sebuah koalisi. Dia memang sudah nekad, ketahuan biar saja, agar lebih cepat berpisah.

Benar juga, lama-lama perselingkuhan Ririn dengan Warto terendus. Ketia keduanya kabur, Jono segera mencarinya dan diajak pulang. Tapi Ririn bersikeras tak mau pulang, ingin jadi pasangan Warto saja. Ternyata Jono tidak marah. Bahkan Ririn diberi uang Rp 1 juga sebagai tambahan biaya kabur-kaburan. “Nggak papa, yang penting kamu bahagia.” Kata Jono.

Karena sudah ada lampu ijo dan setumpuk duit merah, Ririn benar-benar mengajukan gugatan cerai, agar kemudiannya bisa menikah dengan Warto. Adapun anak diserahkan hak asuhnya pada Jono.

Jono benar-benar bukan Joko Kendil, tapi jadi Joko Tarub. (JPNN/Gunarso TS)