Tuesday, 22 May 2018

Kota Wisata Halal Tanpa Musalla?

Sabtu, 10 Maret 2018 — 6:40 WIB
halal

Oleh S Saiful Rahim

“WAH kampung kelahiranku bakal kian hebat nih. Dulu, berkat ada Asian Games pertama dan Ganefo kampung seperti Tunduan, Pecandran, Sebrang dan yang lain-lain berubah jadi surga metropolitan,” kata Dul Karung sambil melemparkan bokongnya ke atas bangku panjang.

Dan seperti biasa, sebelum masuk warung Si Dul mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih.

“Tunggu dulu, Dul! Di Jakarta dulu pernah ada Ganefo dan Asian Games aku tahu walaupun waktu itu aku belum tinggal di Jakarta.

Tetapi yang tadi kau sebut kampung seperti Tunduan, Pecandran, dan Sebrang baru sekarang ini aku dengar. Kampung-kampung itu di mana adanya?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang

“Bendungan tentu kau tahu? Karena sekarang masih ada walaupun terbelah jadi Bendungan Hilir dan Bendungan Selatan. Dulu, sebelum ada Jalan Jenderal Sudirman, kampung yang bernama Bendungan itu cuma satu.

Di tempat yang sekarang kompleks Polda Metro Jaya berada, terus sampai area bisnis elite Jalan Jenderal Sudirman, dan sebagian Jalan Senopati, dulu namanya Kampung Pecandran. Mata pencarian penduduknya kebanyakan membuat dan menjual tape singkong. Di sebelah utaranya, yang sekarang bernama Senayan dulu ada banyak kampung. Di sanalah ada kampung yang bernama Sebrang, Tunduan, dan entah apa lagi. Aku sudah lupa.”

“Jadi yang sekarang namanya Senayan itu, dulu tidak ada?” potong orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Wah, entahlah. Aku benar-benar tak ingat lagi. Yang aku ingat mata pencarian penduduk daerah itu kebanyakan membatik, selain bertani. Ketika Gelora Bung Karno dibangun, penduduk dipindahkan secara “bedol deso” ke daerah Tebet yang ketika itu masih menjadi tempat jin bikin anak,” kata Si Dul seenaknya.

“Jadi kalau Asian Games pertama mengubah kampung jadi surga kota metropolitan, Asian Games kedua ini akan mengubah Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Husni Thamrin menjadi pelengkap membuat Jakarta menjadi kota tujuan wisata halal, sebagaimana yang pernah dicetuskan oleh Wagub Sandiaga,” komentar orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Wah, gak cocok,” potong Dul Karung dengan nada tinggi.

“Memang kenapa?” tanya orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung dengan heran.

“Menurut berita yang kubaca di koran, dalam kaitan penataan kakilima Jalan Jenderal Sudirman dan Jalabn Moh Husni Thamrin, di kedua jalan yang menjadi urat nadi Jakarta itu kelak akan disediakan trotoar dengan lebar antara 12 hingga 15 meter. Di sana akan ada jalur untuk pejalan kaki dan jalur fasilitas. Di jalur fasilitas yang lebarnya antara 3 sampai 3,5 meter akan ada halte, kios, bangku, toilet, dan ruang hijau yang membatasi antara jalan dan trotoar.

Kalau mau menjadikan Jakarta kota tujuan wisata halal, di areal itu seharusnya ada ruang untuk salat. Tidak perlu musalla, cukup ruangan sekadar untuk 2 atau 3 orang salat. Misalnya ditata di dalam halte bus. Itu pun tak perlu di setiap halte, cukup di selang 3 atau 4 halte. Jadi kalau ada penumpang bus yang ingin salat karena waktunya sudah terjepit bisa salat di sana. Tidak seperti sekarang, dia harus keluar halte, dan membeli tiket lagi ketika ingin meneruskan perjalanan. Padahal di sepanjang Jl Jenderal Sudirman sampai Jl Moh. Husni Thamrin tidak ada satu pun masjid. Kecuali di dalam perkantoran atau mal,” kata Dul Karung seraya meningalkan warung Mas Wargo dengan begitu saja. (syahsr@gmail.com )