Saturday, 22 September 2018

Kejahatan Kok Ditiru?

Senin, 12 Maret 2018 — 6:38 WIB
kriminal

APAKAH tempat bagi orang jahat lebih luas dan banyak dibandingkan dengan orang-orang yang merdeka? Jawabnya tentu saja tidak. Sangat sempit dan terbatas. Tapi, mengapa banyak orang yang dengan seenaknya saja berbuat jahat, seolah-olah setelah melakukannya akan aman begitu saja, setelah kabur?

Ya, banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini, seorang karyawan dipercaya atasannya untuk menyetor uang ke bank malah dipakai sendiri. Begitu pula dua karyawan pengisian ATM di Serang, Banten, menyisihkan uang yang harusnya disetorkan ke perusahaannya, masuk kantong pribadi.

Eh, ada juaga petugas polisi yang membantu tahanan kabur. Semuanya direncanakan dengan rapi, seperti surat jalan dengan stempel dan tanda tangan palsu. Dia ini petugas asli lho, yang jelas-jelas tahu bahwa perbuatan jahatnya itu bakalan tercium?

Ya, begtulah, kata orang bahwa perbuatan jahat itu memang kawannya setan. Setan selalu saja berbisik bahwa apa yang dilakukan orang untuk kejahatan adalah baik. Maka sang setan nggak sungkan-sungkan mengelabuhi sohibnya itu. “Sudah sikat saja, yang lain juga pada begitu kok, pimpinan daerah tuh pada korupsi?” kata setan.

Ya, seharusnya kejahatan itu nggak usah diikuti, kebaikan baru boleh, itu yang seharusnya sejajar dengan pikiran. Tapi,memang orang kalau mau jahat kayaknya nggak bisa berpikir panjang lagi. Yang ada dalam otaknya adalah bagaimana mendapatkan dan menguasai harta dan uang yang bukan miliknya itu dengan leluasa.

Tapi, apa mereka nggak mikir, bahwa yang kehilangan bakalan mencari, dan lapor petugas? Pikirannya yang ada bahwa dia akan mendapat uang banyak, kabur, dan sembunyi lalu foya-foya, begitu? Enak banget Ente? Nggak mikir bakalan diburu,dan kalau melawan ditembak petugas? -massoes