Wednesday, 14 November 2018

Kepasrahan Tukang Sol Sepatu di Jalan Thamrin-Sudirman

Selasa, 13 Maret 2018 — 21:02 WIB
Tukang sol sepatu yang mengais rejeki di Jalan Thamrin

Tukang sol sepatu yang mengais rejeki di Jalan Thamrin

JAKARTA – Sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman Jakarta Pusat memang dikenal sebagai kawasan yang elite nan sibuk. Di jalan ini berdiri apartement, hotel, kantor kedutaan, perkantoran sampai departement store.

Semua yang melintas atau yang berlalu lalang di jalan protokol ini tampak sibuk. Berjalan dengan serba tergesa-gesa. Pengendara mobil maupun motor harus konsentrasi agar tidak celaka lantaran arus lalulintas selalu padat.

Namun dari kesibukan warga tersebut ada satu sosok yang berbeda. Dia tidak ikut bergegas, justru duduk di trotoar. Ketika disapa, lelaki itu mengaku bernama Jahanam. Tidak jelas apakah betul namanya seperti yang dia sebut.

Pria ini juga mengaku usianya sudah 73 tahun dari berasal dari Lemahabang, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Yaa.. Jahanam memang seorang tukang sol sepatu. Entah kenapa dia mau bertahan di jalan tersebut yang tentu sulit beharap ada yang masih mau memperbaiki sepatunya yang rusak.Terlebih di daerah elit seperti itu?

Bagi Jahanam, sepertinya harapan seperti itu tetap ada. Buktinya dia masih bertahan jadi tukang sol sepatu di jalan yang super sibuk itu.

Lelaki yang di Jakarta mengaku tinggal di Duku Atas memang hanya bisa pasrah. Dia hanya bisa berharap hari ini ada warga yang sepatunya rusak.

Ya laki-laki tua ini mengaku terpaksa mengais rejeki di Jalan Sudirman-Thamrin. Jahanam mengaku sudah tak kuat berjalan berkeliling mencari orang yang sepatunya ingin disol

“Wah Mas saya sebenernya sudah gak kuat keliling, usia saya sudah 73 tahun kaki saya udah gak kuat diajak keliling jadi saya juga kadang pulang gak bawa uang, sedangkan kontrakan sama kebutuhan sehari-hari perlu uang, ” ungkapnya sambil menghela nafas

Sebetulnya yang diinginkan lelaki uzur ini hanya ingin berkumpul dengan keluarganya, namun ia tak ingin merepotkan keluarganya. “Saya pengen ngumpul aja ama keluarga Mas, udah gak kuat Mas saya, tapi saya sudah cerai sama istri dari 2001, anak juga udah berkeluarga semua, saya takut ngerepotin Mas, ” sambungnya.

Kepasrahan memang begitu kental bagi pria tuan ini. Berapa tidak dia sudah siap jika dipanggil Tuhannya. Ia pun bercerita bahwa andaikan dirinya dipanggil yang kuasa ia ingin masa-masa terakhirnya bersama keluarga.(cw4/b)