Tuesday, 18 December 2018

Aa Gatot Dituntut 15 Tahun Bui

Rabu, 14 Maret 2018 — 18:40 WIB
Gatot Brajamusti alias Aa Gatot menjalani sidang tuntutan terkait kasus asusila di Pengadilan Jakarta Selatan (cw6)

Gatot Brajamusti alias Aa Gatot menjalani sidang tuntutan terkait kasus asusila di Pengadilan Jakarta Selatan (cw6)

JAKARTA – Gatot Brajamusti alias Aa Gatot menjalani sidang tuntutan terkait kasus asusila di Pengadilan Jakarta Selatan, Rabu (14/3/2018). Mantan Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) itu dituntut dengan ancaman maksimal, yakni 15 tahun penjara dengan denda Rp 200 juta, subsider 1 tahun kurungan.

“Aa Gatot telah kita tuntut dan sudah kita bacakan sesuai dengan pasal yang terbukti dakwaan, pertama Pasal 81 Ayat 2 UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP,” ucap Jaksa Penuntut Umum, Hadiman.

Hadiman melanjutkan, alasan memberikan hukuman maksimal lantaran Gatot melakukan tindak kriminal secara berlanjut. “Karena kan perbuatan dia itu ditambah perbuatan berlanjut, artinya tahun 2007 sampai 2011 dia melakukan hal-hal itu. Jadi sudah berapa tahun tuh, seterusnya. Jadi ada pasal 64 ayat 1 yang memberatkan,” paparnya.

Selain kasus asusila, Aa Gatot juga terlibat kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka. Kasus itu saat ini juga masuk dalam agenda tuntutan.

Seharusnya, tuntutan untuk dua kasus itu dibacakan hari ini, bersamaan dengan kasus asusila.

Namun, untuk pembacaan tuntutan kasus kepemilikan senjata api dan satwa langka, ditunda. Penundaan itu sudah keempat kalinya dilakukan jaksa. Alasannya, materi tuntutan belum turun dari Jaksa Agung.

Hakim yang kembali mendengar penundaan itu tampak geram. Ia pun mempertanyakan kepada jaksa mengapa hal itu kembali terjadi.

“Ini padahal sudah saya programkan, saya sudah tidak punya catatan, saya sudah nada tinggi kemarin, tanya ke bapak Jaksa Agung susahnya di mana,” ucap Hakim Ketua, Achmad Guntur.

Karena itu, Hakim Achmad menjadwalkam kembali sidang tuntutan untuk kasus kepemilikan satwa liar dan senjata api pada 22 Maret 2018. Sementara itu, untuk kasus pencabulan dilanjutkan kembali pada 29 Maret 2018 dengan agenda pembacaan pleidoi.

Diwartakan sebelumnya, Aa Gatot didakwa beberapa dakwaan. Dalam dakwaan primer, Aa Gatot didakwa melanggar Pasal 21 Ayat 2 huruf b jo Pasal 40 Ayat 2 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Dia juga didakwa telah melanggar Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 karena memiliki beberapa senjata api beragam jenis beserta amunisinya.

Kemudian, Gatot dianggap tanpa hak menguasai, membawa, menyimpan, menyembunyikan senjata penikam, senjata pemukul, senjata penusuk, sehingga ia juga didakwa dakwaan subsider yakni diancam dengan pidana berdasarkan Pasal 2 Ayat 1 Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Selain itu, Gatot juga didakwa dengan Pasal 81 Ayat 2 Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP karena memerkosa perempuan berinisial CT. (cw6)