Wednesday, 26 September 2018

Ini Tatang, Pawang Hujan Laga Persija – SLNA

Rabu, 14 Maret 2018 — 18:32 WIB
Tatang Riadi, pawang hujan laga Persija - SLNA di SUGBK Senayan, Jakarta Pusat. (cw1)

Tatang Riadi, pawang hujan laga Persija - SLNA di SUGBK Senayan, Jakarta Pusat. (cw1)

JAKARTA – Selain menyiapkan kondisi pemain agar tetap fit, strategi mumpuni, serta pengamanan di stadion, Persija Jakarta juga menyiapkan hal lain untuk menunjang pertandingan agar berjalan lancar.

Termasuk menyiapkan pawang hujan. Barangkali ini terdengar aneh di dunia olah raga. Namun, siapapun pasti tak ingin pertandingan berjalan lancar tanpa gangguan hujan deras yang bisa membuat bola tak lancar mengelinding.

Pawang yang dipercaya manajemen Persija dan panita penyelenggara laga lanjutan AFC cup itu adalah Tatang Riadi. Ia yang akan ‘menjaga’ agar air tak tumpah dari langit saat Persiha melawan Song Lam Nghe An (SLNA) di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, hari ini, Rabu (14/3/2018).

“Mudah-mudahan ini berjalan dengan baik, karena ini pertandingan internasional. Semoga berjalan lancar, cerah, dan tidak ada suatu halangan apapun kalau saya melihat dari alamnya,” ucapnya.

Untuk mengetahui kondisi cuaca, ia mengaku melalukannya dengan melihat tanda-tanda yang ada di langit.

“Kita biasanya melihat dari kondisi awan, jadi kayak misalnya mau hujan itu tanda-tandanya seperti itu mendung, kadang ada bintang. InsyAllah mudah-mudahan lancar. Itu gambaran peta saya. Ada bulan itu gambaran alam. Insya Allah kalau bulan itu timbul ya mudah-mudahan langit itu cerah seperti itu,” ungkapnya.

Mengenai ritual, Tatang mengaku tidak melakukan ritual semacam yang dilakukan pawang hujan kebanyakan. Jadi, tak ada sesajen yang disiapkannya.
“Kalau saya tidak ada, kita menjalankan syariat Islam, sholat nggak lepas dari wudhu, nanti wudhu itu setelah selesai ke rumah baru saya lepas. Begitu saya mau tidur saya ambil lagi wudhu, jadi kita menghadapi pekerjaan dan menghadap kepada Yang Maha Juasa,” jelasnya.

Selain di bidang sepak bola, Tatang mengaku juga sering menjadi pawang di acara lain. Bahkan ia pernah menjadi pawang di acara pemakaman

“Kita urut ya. Di golf, wedding (pernikahan), acara peletakan batu pertama, serah terima jabatan, sampai orang meninggal pun kita pernah dipanggil untuk nungguin waktu pemakaman di Gunung Sindur Bogor dan juga pernah masuk diskotik. Mungkin kalau orang bilang pak Tatang ini pawang gaul. Jadi ya yang diberikan orang kalau minta bantuan, saya oke, alhamdulillah saya berikan (bantuan),” tandasnya.

Ternyata bakat yang ia punya merupakan sudah turun menurun di keluarganya. Di mulai dari ayahnya sampai ke anak-anaknya.

“Sebenernya (bakat) dari almarhum abah saya. Jadi saya regenerasi. Kakak saya yang pegang Golf Bogor Raya, dan di generasi anak saya sendiri, anak saya nomor 2, dia sendiri sudah kerja. Dia disebutnya pawang kampus. Ya mungkin karena tampilannya beda ya gitu. Jadi sudah saya turunkan, kemungkinan saya punya regenarisanya dua, anak yang nomor empat dan lima.” tutupnya. (cw1/yp)