Thursday, 21 June 2018

Judi Koprok di Sawah Besar Terorganisir, Dilengkapi Belasan Mata-mata

Rabu, 14 Maret 2018 — 17:08 WIB
Puluhan penjudi diangkut dari Sawah Besar

Puluhan penjudi diangkut dari Sawah Besar

JAKARTA – Praktik judi koprok yang dibongkar oleh tim gabungan Polres Metro Jakarta Pusat, Polda Metro Jaya dan Mabes Polri di rumah Jalan Dwi Warna VIII Gang C, Sawah Besar, Jakarta, Senin (12/3) malam disebut sangat terorganisir dengan menyebar mata-mata belasan orang di semua gang masuk lokasi.

“Saat masuk harus lewati gang, anggota juga kesulitan untuk dapatkan permainan ini karena ada mata-mata yang di pasang di tiap gang, begitu ada anggota datang mau cek, tapi beritanya dah sampe di dalem,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Rabu (14/3/2018).

Menurut Argo, jumlah mata-mata bisa mencapai belasan orang yang saling terkoneksi dengan handphone sehingga jika ditemukan hal mencurigakan atau ada petugas maka akan langsung sampai ke lapak. Untuk bisa sampai ke lokasi pun harus ditempuh dengan berjalan kaki.

“Pada orang asing dia sensitif. Jadi kalau ada anggota sudah sampai ke dalam gang mata-mata yang banyak di setiap gang ini langsung laporan kedalam. ada imbalannya juga dia, antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu,” kata Argo.

Meski belum ada satu tahun beroperasi, namun bisnis judi ini sudah sering dilakukan penggerebekan beberapa kali. Untuk menghindari kecurigaan petugas, perjudian juga tidak di buka setiap hari. Namun, sekali menggelar perjudian bisa berlangsung hingga pagi hari.

“Di daerah situ pernah juga kita lakukan penangkapan dan ini dengan lokasi 50 meter disana,” kata Argo.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan 85 tersangka terdiri dari dua orang bertindak sebagai pengelola atau penyelenggara tempat berinisial ALS dan JT, tujuh orang pengelola judi koprok dan sisanya para pemain. “Jumlah 85 itu kita lakukan penahanan, kita sidik sesuai peran masing-masing. Pasal 303 juncto Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU),” kata dia.

Kendati belum bisa mentaksir omzet dalam bisnis tersebut namun uan yang beredar mencapai ratusan juta rupiah.

“Setiap orang rata-rata dalam sekali pasang ada yang Rp 30 juta tapi ada yang Rp 1 juta. Ini mereka keluar masuk ya. Omzetnya kalau punya Rp 30 juta pasang Rp 30 juta dapat Rp 30 juta jadi Rp 60 juta. Ini ada banyak yang main. Omzet pasti kita belum dapat tapi barang hukti ada Rp 300 juta,” tegas Argo. (Yendhi/b)