Wednesday, 26 September 2018

KPK Periksa VC Opperation Support PT Garuda Indonesia

Rabu, 14 Maret 2018 — 22:52 WIB
Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jakarta. (dok)

Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jakarta. (dok)

JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Puji Nur Handayani, VP Operation Support PT Garuda Indonesia, terkait kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls Royce PLC pada PT Garuda Indonesia yang menjerat mantan Direktur Utama PT. Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, Rabu (14/3/2018).

Selain Puji, penyidik KPK juga memeriksa Agus Priyanto, mantan Direktur Niaga PT Garuda Indonesia. Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, keduanya diperiksa sebagai saksi bagi tersangka Emirsyah.

Kepada kedua saksi itu, kata Febri, penyidik mendalami informasi tentang proses pengadaan pesawat, mesin pesawat dan pemeliharaan mesin pesawat.

“Tentu Informasi tentang proses pengadaan ini akan dianalisis secara terus menerus dan didalami kaitannya dengan dugaan aliran dana yang diterima tersangka,” ujarnya, di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (14/3/2018).

Terkait kasus ini, KPK telah memeriksa sedikitnya 42 saksi. Termasuk di antaranya sejumlah petinggi Garuda Indonesia.
Antara lain mantan Direktur Utama PT Citilink Indonesia, Albert Burhan, mantan Direktur Teknik PT Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno, dan pensiunan pegawai PT Garuda Indonesia, Capt. Agus Wahjudo.

Kasus yang menjerat mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar ini merupakan kasus yang sudah diusut KPK sejak tahun 2016.
Dalam kasus ini, selain telah menjerat Emir, KPK juga menetapkan status tersangka kepada pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) yang juga beneficial owner Connaught International Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo.

Meski telah lama menetapkan tersangka, penyidik KPK sampai saat ini belum juga menahan Emirsyah dan Soetikno.

Emir disangkakan menerima uang sebesar 2 juta dolar AS dan dalam bentuk barang senilai 2 juta dolar AS dari Rolls-Royce melalui pendiri PT MRA Group Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd.

Suap diduga terjadi selama Emir menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. Tak hanya terkait pembelian mesin pesawat Rolls-Royce, dalam pengembangan kasus ini, KPK menduga Emir juga menerima suap terkait pembelian pesawat dari Airbus.

Atas perbuatannya, Emir disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sementara Soetikno Soedarjo selaku pihak pemberi disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat 1 huruf b atau pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (julian/yp)