Sunday, 23 September 2018

Minta KPK Tunda Kasus Korupsi, Hendardi: Pemerintah Sarat Absurditas

Rabu, 14 Maret 2018 — 7:41 WIB
Hendardi , Ketua Setara Institute

Hendardi , Ketua Setara Institute

JAKARTA –  Ketua SETARA Institute, Hendardi, mengatakan adanya permintaan dari pemerintah kepada penegak hukum, khususnya KPK untuk menunda penanganan kasus korupsi pada para terduga korupsi di daerah yang melaksanakan Pilkada serentak tahun 2018 merupakan suatu keganjilan.

Hal itu disampaikan Hendardi menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, Senin, (12/3) di Kantornya, di Jakarta, yang saat menyampaikan pernyataan itu didampingi oleh Ketua KPU dan Ketua Bawaslu.

“Pandangan pemerintah di atas sarat dengan absurditas (tidak logis-red),” kata Ketua SETARA Institute, Hendardi.

Pertama, kata Hendardi, penilaian bahwa penetapan tersangka oleh KPK berarti KPK masuk ranah politik. Statemen tersebut misleading. Penetapan tersangka seharusnya dibaca sebagai langkah progresif untuk mewujudkan public expiation (penebusan dosa publik).

“Politik hari ini, khususnya politik elektoral, lebih sering dimanfaatkan sebagai arena bersama elite untuk transaksi kepentingan antar mereka, bahkan dalam bentuk permufakatan jahat antara politisi dan pengusaha hitam sebagai bohir. Sehingga sebagian besar perhelatan Pemilu dan Pilkada banyak melahirkan pejabat-pejabat politik korup,” ucapnya.

Menurutnya, membiarkan situasi itu jelas merupakan dosa bersama publik. Maka langkah penetapan tersangka KPK sebelum pemilihan harus dibaca sebagai upaya untuk memurnikan politik Pilkada, sehingga politisi-politisi korup sudah harus sejak awal masuk keranjang blacklist.

Kedua, bebernya, derajat kepublikan yang melekat pada diri para paslon yang sudah terdaftar mestinya semakin menuntut pengawasan hukum. Bukan malah memberi mereka imunitas hukum hingga penghitungan suara. Semakin tebal derajat kepublikan yang melekat pada seseorang, semakin besar kuasa yang ada padanya.

“Artinya, akan semakin besar pula potensi abuse. Untuk mencegah abuse, harus semakin tinggi level kontrol hukum dan publik. Maka, penetapan tersangka yang akan dilakukan oleh KPK harus dibaca sebagai mekanisme terobosan untuk mencegah abuse. Hal itu tentu langkah baik. Sebab, jika figur korup yang akhirnya terpilih, komplikasi politik dan hukum yang akan ditimbulkan bagi kepentingan publik jelas akan lebih rumit,” katanya.

Namun demikian, ucap Hendardi, KPK juga dituntut menerapkan standar operasi yang lebih presisi dan berintegritas. Komplain sejumlah pihak terkait operasi tangkap tangan (OTT) seperti dalam kasus penangkapan calon gubernur NTT misalnya, dimana standar OTT dianggap banyak pihak tidak terpenuhi, dapat merusak independensi KPK.

“Untuk mencegah tuduhan KPK berpolitik di tengah kontestasi Pilkada, due process of law harus dipedomani dan tidak semata-mata berorientasi pada dramatisasi penangkapan dan penegakan hukum. Standar OTT dalam KUHAP harus menjadi acuan normatif dan rigid bagi KPK karena jika disimpangi, justru akan melemahkan KPK itu sendiri,” tutupnya.
(rizal/sir)