Wednesday, 26 September 2018

Sekali Tusuk Kok Belum Mati di Rumah Sakit Ditambah Lagi

Rabu, 14 Maret 2018 — 6:40 WIB
tikam

ISTRI  paling sadis dan pendendam di Palembang, mungkin hanyalah Murniati, 37. Ribut dengan suami gara-gara WIL, dia tega menusuk perut suaminya. Kok belum mati juga, dia menyusul ke RS Bari pura-pura membezuk. Begitu aman, langsung saja pisau ditusukkan ke dada suami. Ya matilah……

Semakin lama usia perkawinan, mestinya semakin matang menghadapi problema rumahtangga. Bila lulus dalam ujian itu, jadilah mereka pasangan suami istri yang sakinah, sukur-sukur punya pembantu bernama Sukinah. Bahagia lahir batin hingga kakek nenek, anak cucu sehat wal afiat, berguna bagi nusa bangsa, agama dan mertua.

Tidak demikian dengan keluarga Murniati – Sakban, 39, warga Ogan Baru Kecamatan Kertapati Palembang. Ketika usia perkawinan menginjak angka 22 tahun, justru malah sering ribut. Tentu saja 4 anaknya jadi sedih selalu, karena orangtuanya ribut melulu.

Biangkeroknya adalah Sakban sendiri. Mentang-mentang istrinya sudah mulai menua dan kendor, dia berusaha membentuk “poros kedua” dalam rumahtangganya. Maksudnya, di samping ada istri definitip, ada pula istri sambilan yang lumrah disebut Wanita Idaman Lain (WIL). Dia yakin betul bahwa “poros kedua” itu akan terwujud tanpa kendala, karena Sakban mengklaim bisa bermain cantik.

Tapi rupanya Sakban tidak tahu bahwa punya WIL termasuk proyek padat modal. Istri bayangan ini tuntutannya macam-macam, padahal gaji Sakban sebagai karyawan swasta hanya pas-pasan. Maka untuk mengimbangi tuntutan WIL-nya, banyak alokasi anggaran rumahtangga dipangkas lebih dari 30 % kemudian dialirkan ke cem-cemannya sebagai dana hibah yang bebas audit.

Lama-lama Murniati curiga juga, kok gaji suami sudah berbulan-bulan tak diterima utuh. Jangan-jangan buat main perempuan. Kecurigaan makin menguat ketika belakangan suami sering tidak pulang. Alasannya lembur, tapi kok uang belanja di rumah tak ada peningkatan?

Mulailah Murniati membentuk TGPF (Tim Gabungab Pencari Fakta) untuk mamata-matai suami. Hasilnya sangat akurat. Memang betul, Sakban memiliki seorang WIL di kampung lain. Saat disusul, suami ada di situ, malah masih kemulan sarung. “Ngapain kamu nyusul ke sini? Ayo pulang!” kata Sakban garang, seakan dia yang benar.

Suami istri itu pulang ke rumah. Tapi dalam kamar Murniati dihajar habis, kepala dijedotin tembok. Habis itu seperti tak terjadi apa-apa, Sakban bak tanpa dosa langsung tidur mendengkur. Mungkin di sana bermimpi kelonan lagi bersama WIL-nya.

Murniati yang sakit luar dalam atas ulah suami, langsung ambil pisau dan ditusukkan ke perut suami. Sakban terbangun dan minta tolong tetangga untuk mengantarkan ke RS Bari, Palembang. Nyawa Sakban bisa diselamatkan, tapi harus menjalani perawatan intensif akibat luka-lukanya.

Meski suami sudah terkapar dan nyaris wasalam, tak ada juga sedikit iba di hati Murniati. Justru dia menyesal, kenapa Sakban tidak mati juga pada tusukan pertama. Dia pun lalu berfikir. Jika dia sudah sembuh dan pulang, pastilah kembali kena hajar, dan bisa saja dibunuh betulan seperti ancaman-ancamannya selama ini.

Daripada keduluan, mendingan mendahului, begitu pikir Murniati. Maka dengan pura-pura membezuknya, dia ke RS Bari dan langsung menemui zal suami di ruang perawatan. Suami rupanya sedang tidur. Pisau maut yang dibawa dari rumah langsung diambil dan ditusukkan tepat ke dada Sakban. Jleb…..hanya sekali mengaduh dan langsung tewas. Murniati ditangkap Satpam, tapi lega karena berhasil menuntaskan misi dendamnya.

Biar perempuan, bisa juga dia jadi pembunuh berdarah dingin. (SP/Gunarso TS)