Sunday, 22 April 2018

POLITIKUS MUDA

Kamis, 15 Maret 2018 — 7:10 WIB

Oleh H. Harmoko

SAMMUEL Ullman (1840—1924), pengusaha dan penyair Amerika, menulis prosa lirik, Youth: “muda itu bukan urusan umur, melainkan sikap pemikiran; bukan berarti pipi kemerahan, bibir merah merekah dan dengkul kuat, melainkan terletak pada kemauan, kualitas imajinasi, kekuatan emosional, kesegaran dan kebugaran dari sumber paling dalam kehidupan.”

Muda, tulis Ullman, berarti penguasaan temperamental dari keberanian untuk mengatasi rasa malu dan keengganan atas gairah. Ini umumnya terjadi pada remaja 20 tahunan. Bagaimana mereka yang sudah tua?

Umur bisa mengeriputkan kulit, tapi kehilangan antusiasme hidup akan mengeriputkan jiwa. Tak peduli usia 60 atau 16 tahun, tentu, jangan pernah kehilangan gairah untuk ingin tahu apa yang terjadi, dan menikmati permainan hidup serta kehidupan.

Tulisan Samuel Ullman itu, oleh Jenderal Douglas McArthur, si Singa Pasifik dalam Perang Dunia II, disimpan di dompetnya sebagai pendorong perjuangannya. Lembaran itu diletakkan di meja tulisnya, di Tokyo, yang 40 tahun kemudian menyebar di kalangan politikus dan eksekutif Jepang, baik yang muda maupun yang tua. Gairah itu menjadi dapur pacu mereka untuk maju. Lihat Jepang sekarang.

Bagaimana Indonesia? Banyak orang menyebutkan, negeri ini dipenuhi oleh generasi muda berjiwa keriput yang tak tahu gairah hidup perjuangan bangsanya. Padahal, para pendiri bangsa yang dulu selalu “berjiwa muda” menangkap sinyal kehidupan pada kawasan tumpah darah mereka, lalu merumuskan konsep Negara Kesatuan RI, dilengkapi dengan Pancasila dan UUD 1945, sebagai panduan hidup berbangsa dan bernegara.

Sayangnya, entah karena pengaruh apa, generani penerus bangsa ini tidak banyak yang mewarisi semangat pendahulu kita. Gairah hidup mereka bukan untuk kepentingan bangsa dan negara, melainkan untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya. Hidup serba pragmatis.

Jiwa-jiwa keriput anak muda membuat mereka tidak bergairah untuk berjuang. Menyerahkah kita? Menyerah pada keadaan jelas bukan jiwa orang muda. Itu jiwa orang renta yang pesimistis dan sinis terhadap kekuatan bangsa sendiri, orang renta yang kehilangan gairah hidup, orang renta yang tidak mengantongi nasionalisme, melainkan mengantongi rente pembudakan diri pada kekuatan asing. Seperti kata Samuel Ullman, untuk menjadi renta dan keriput ternyata tidak harus menunggu tua.

Ketika belakangan muncul anak-anak muda di panggung politik, kita berharap mereka tidak keburu renta sebelum waktunya. Menjadi politikus muda dengan modal semangat saja tentu belum cukup. Apa lagi, politik di negeri kita sebegitu dinamis karena banyak kepentingan di sana.

Lantas, pada kepentingan yang mana kaum muda itu harus mendedikasikan dirinya? Mari belajar dari Jepang, maju dengan kekuatan bangsa sendiri, bukan dengan kekuatan asing yang salah-salah justru menjadikan bangsa ini tak bisa lepas dari cengkeraman asing. Bisakah? Kita tunggu saja, mudah-mudahan para politikus muda tidak cepat keriput seperti kata Samuel Ullman. ( * )

Terbaru

Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Sa'adi.(ist)
Senin, 23/04/2018 — 1:03 WIB
Soal Perppu Perkawinan Anak, ini Permintaan MUI
Pemain Manchester City merayakan gol  yang dicetak Kevin de Bruyne ke gawang Swansea City. (reuters)
Senin, 23/04/2018 — 0:37 WIB
Manchester City Cukur Swansea 5-0
Ilustrasi
Senin, 23/04/2018 — 0:18 WIB
Jamaah Haji Bekasi Juga Diminta Sehat Jasmani